Terapi Herbal untuk Kasus Stroke
Oct 5th, 2008 | By admin2 | Category: Berita, FiturHari Raya Idul Fitri baru saja berlalu. Dengan semangat Hari Kemenangan, semua orang mulai kembali menjalani rutinitasnya semula. Demikian pula dengan Yayasan Eureka Indonesia (YEI). Sejumlah aktivitas yang sempat dinonaktifkan menjelang Lebaran kembali dijalankan. Beberapa persiapan pun dilakukan untuk sejumlah program/kegiatan hingga akhir tahun 2008 dan rencanan program di tahun 2009.
Dari sekian banyak persiapan yang dilakukan, salah satu di antaranya adalah tindak lanjut pilot project terapi herbal yang diawali di bulan September. YEI mengarahkan pilot project ini untuk menangani kasus stroke.
“Pilot project ini akan bernilai sosial dan ilmiah. Dikatakan sosial karena merupakan bagian dari program Eureka! Peduli untuk membantu rehabilitasi penderita stroke yang tidak mampu secara ekonomi. Dikatakan ilmiah karena programnya diarahkan pula untuk riset terapi herbal pada kasus stroke,” papar Kuspriyanto S.Si., Apt., Ketua YEI.
Untuk riset tersebut, YEI akan menjaring setidaknya 10 orang penderita stroke dengan prioritas dari kalangan keluarga tidak mampu dan berdomisili di Kota Cimahi. Riset ini akan membuktikan sejauh mana tingkat keberhasilan konsep terapi herbal yang sejak 1o tahun yang lalu digunakan oleh Setiawan, BSN-RN., dosen FIK UNPAD, secara spesifik pada penderita stroke.
Selain terapinya, Setiawan bersama sejumlah mahasiswa Program Studi Keperawatan Stikes A. Yani Cimahi pun secara paralel tengah menyusun buku tentang perawatan stroke dan mempersiapkan pelatihan terapi herbal. “Saya sangat membutuhkan back-up SDM dalam pilot project ini, khususnya untuk di Kota Cimahi, Bandung, dan sekitarnya,” jelas Setiawan.
Perlu Dukungan
Selepas Hari Raya Idul Fitri 1429 H YEI merencanakan untuk memusatkan aktivitas pilot project terapi herbal tersebut di sekretariat YEI. “Kami merencanakan untuk membuat green house kecil-kecilan di sekretariat YEI bagi tanaman-tanaman yang digunakan sebagai bahan racikan herbal. Ke depannya sangat mungkin untuk akan dikembangkan menjadi herbal center,” ungkap Oyoh, S.Kep., Ners., salah seorang project staff.
Sudah dapat dipastikan bahwa pilot project ini akan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit. “Dengan pasien minimal 10 orang dan sejumlah SDM yang terlibat di lapangan, biaya operasionalnya lumayan besar. Kami berharap stakeholder terkait dapat membantu,” harap Lilis Rohayani, S.Kep., Ners., project staff lainnya.
