Temu Media KPAP Jabar: Hilangkan Stigma Negatif HIV/AIDS
Oct 30th, 2008 | By admin2 | Category: BeritaHingga saat ini, masih banyak ditemukan kesalahan persepsi, stigma negatif, hingga perlakuan diskriminatif tentang HIV/AIDS dan para penderitanya. Hal ini terungkap dalam temu media KPAP Jawa Barat dengan tema “Mencermati Kasus AIDS yang Tinggi di Jawa Barat” pada hari Kamis (30/10) di Hotel Santika, Bandung. Hadir sebagai narasumber Dr. Nirmala Kesumah, MHA dari Tim Penanggulangan Infeksi HIV/AIDS RSHS Bandung dan Dr. Yuzar dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
Di awal sesi, Nirmala mengungkap sejumlah kendala yang ditemukan dalam proses Voluntary Counselling and Testing (VCT) HIV/AIDS di Klinik Teratai RSHS Bandung. “Banyak yang mengatakan untuk apa dilakukan tes karena dirinya merasa sudah lama berhenti menggunakan narkoba jarum suntik. Ada juga yang punya keyakinan bahwa dirinya bersih dari infeksi menular seksual karena yakin bahwa teman kencannya adalah perempuan yang bersih juga. Bahkan kecurigaan dan ketakutan yang berlebihan dari tenaga medis ketika menemukan pasien yang sedikit mencurigakan maka pasien segera diminta untuk melakukan tes HIV/AIDS,” Nirmala prihatin.
Sambil menyampaikan pengetahuan dasar tentang HIV/AIDS, Nirmala pun menjelaskan mengapa kasus AIDS tercatat lebih banyak daripada yang terinfeksi HIV atau HIV positif. “Karena kebanyakan melakukan VCT dan terdeteksi ketika sudah berada dalam stadium III HIV positif dan stadium IV yang sudah masuk ke dalam kategori AIDS. Di awal infeksi HIV tidak terjadi keluhan atau gejala yang berarti, biasanya gejala seperti flu saja. Berbagai keluhan akibat infeksi di stadium berikutnya pun kurang dicermati sebagai infeksi HIV,” jelasnya.
Di sela-sela paparannya tentang data terbaru kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Barat, Dr. Yuzar berpesan kepada rekan-rekan wartawan yang hadir agar tidak membuat pemberitaan yang negatif, tetapi upayakan membuat berita yang lebih humanis tentang HIV/AIDS. “Apalah arti sebuah angka. Sedikit atau banyak kasus HIV/AIDS yang terjadi, tetap saja harus ditanggulangi,” kata Yuzar.
Hingga bulan Juni 2008 Departemen Kesehatan RI mencatat 1835 kasus AIDS di Jawa Barat sehingga menduduki peringkat ke-2 nasional. Sementara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dari tahun 1989 hingga bulan Juni 2008 mencatat 2106 kasus AIDS, 1674 kasus HIV, 384 orang telah meninggal, dan estimasi populasi rawan tertular HIV di tahun 2006 sebanyak 20980 orang. Jumlah kumulatif kasus AIDS dan HIV positif menurut faktor risikonya di Jawa Barat didominasi oleh pemakai narkoba suntik sebanyak 67,86%, lebih besar dari faktor risiko perilaku seks yang hanya sekitar 20% saja. Jika data prosentase kasus AIDS berdasarkan kelompok umur menunjukkan bahwa 61,63% penderita saat ini berumur antara 20 sampai 29 tahun, secara teori dapat dikatakan bahwa infeksi HIV sudah mulai terjadi ketika penderita berumur 15 tahun.
Di satu sisi, Nirmala mengatakan bahwa jumlah penderita HIV/AIDS yang terus meningkat salah satunya dikarenakan peran jejaring pelayanan kesehatan yang belum optimal. Di sisi lain, Yuzar menegaskan bahwa selama masih ada stigma negatif tentang HIV/AIDS, maka angka HIV/AIDS tidak akan muncul. Jadi ketika saat ini angkanya tercatat cukup besar, Bukan hanya berarti penyebarannya semakin meluas, tetapi juga sebagai indikator bahwa sosialisasi HIV/AIDS sudah diterima cukup baik oleh masyarakat sehingga semakin banyak orang yang datang ke tempat-tempat pelayanan kesehatan.
Menyikapi peran apa yang dapat dilakukan oleh insan pers dalam penanggulangan HIV/AIDS, Nirmala mengatakan bahwa komponen VCT bukan hanya terdiri dari para konselor atau rekan-rekan di LSM yang melakukan penjangkauan dan membantu merujuk penderita ke sarana pelayanan kesehatan. “Mengingat VCT merupakan pintu masuk ke dalam jejaring pelayanan, maka diperlukan pula pihak-pihak yang membantu mendorong masyarakat untuk melakukan VCT, dan itu dapat dilakukan oleh rekan-rekan wartawan,” jelas Nirmala.
Kedua narasumber berharap semua pihak memiliki kesamaan persepsi tentang penaggulangan HIV/AIDS dan menghindari kontroversi. Untuk itu, diperlukan keterbukaan dan komunikasi yang baik. Iman dan perilaku memang merupakan kunci utama penyelesaian masalah. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa keduanya memerlukan proses. “Sementara berproses, bukankah lebih baik jika para pemakai narkoba suntik diberi jarum suntik yang bersih agar tidak menggunakan jarum suntik bersama-sama? Atau diberi terapi pengganti dengan Metadon? Atau sementara berproses memperbaiki perilaku seksualnya maka pria disarankan untuk menggunakan kondom? Semua ini dilakukan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS yang lebih luas lagi,” sanggah Nirmala.
