Talkshow Kesehatan Remaja Kota Depok
Nov 25th, 2008 | By admin2 | Category: Berita, FiturDalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional, Dinas Kesehatan Kota Depok bekerja sama dengan mahasiswa Pascasarjana Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyelenggarakan Talkshow Kesehatan Remaja dengan tema “Sehatkan Dirimu dengan Pola Makan yang Benar” pada hari Kamis (13/11) di Aula Pemerintah Kota Depok. Dihadiri oleh sekitar 200 peserta perwakilan siswa SLTP dan SLTA se-Kota Depok, takshow ini menghadirkan narasumber DR., Dra., Ratu Ayu Dewi Sartika, Apt., M.Sc, H.E. Kusdinar Achmad, dr., MD., MPH, dan Ir. Ahmad Syafiq, M.Sc., PhD.
Hadir untuk membuka acara Walikota Depok, Nurmahmudi Ismail. Dalam sambutannya Nurmahmudi menyatakan keprihatinannya atas masalah kesehatan yang timbul karena pola makan yang tidak benar saat ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi mulai banyak dialami oleh remaja.
Remaja dan Obesitas
Dalam paparannya, DR., Dra., Ratu Ayu Dewi Sartika, Apt. menjelaskan tentang obesitas yang terjadi pada remaja. Saat ini, terjadi kebiasaan makan berlebihan yang bukan karena kebutuhan, tetapi untuk keperluan relasi atau entertaintment dengan kalori yang jauh lebih besar dari yang dibutuhkan. Konsumsi karbohidrat dan lemak bertambah, namun miskin serat. Belum lagi budaya ngemil saat mengisi waktu senggang, menonton televisi, dan belanja. Hal ini dialami pula oleh para remaja. Pola makan cepat saji yang biasanya mengandung banyak lemak ditambah dengan gaya hidup yang serba mudah dan tidak lagi memerlukan banyak energi merupakan penyebab obesitas.
Selain menyebabkan penampilan yang kurang menarik, gerakan tidak gesit, cenderung lamban, obesitas yang terjadi pada usia remaja akan menjadi salah satu faktor risiko sejumlah penyakit degeneratif di usia dewasa seperti penyakit jantung, diabetes mellitus, hipertensi, gangguan sendi tulang, dan gangguan ginjal.
Ratu Ayu mengingatkan kepada para peserta untuk memperhatikan pola makan sehat dengan gizi seimbang, yaitu 60-70% karbohidrat, 10-15% protein, dan 20-25% lemak. Upayakan makan teratur sehari 3 kali dengan 2-3 kali makanan selingan. Porsi makan dibagi 20% pada pagi hari, 30% di siang hari, 25% di sore hari, dan makanan selingan cukup 10-15% saja.
Gizi dan Kesehatan Reproduksi
Gizi sangat terkait dengan kesehatan reproduksi, dan ini menjadi hal yang sangat penting bagi para remaja. Kehidupan reproduktif perempuan lebih banyak dipengaruhi oleh siklus, hormonal, dan fungsi fisiologis ketimbang laki-laki. khusus pada perempuan, titik awal kehidupan reproduktif adalah menarche (awal haid) dan terus berlangsung kemudian berakhir saat menopause.
Kusdinar Achmad menekankan bahwa kebutuhan gizi pada remaja sangat penting dalam mendukung laju pematangan seksual, selain untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan normal serta perubahan berat badan dan komposisi tubuh. Untuk itu, remaja perlu memperhatikan kecukupan gizi yang meliputi zat gizi makro seperti energi, protein, karbohidrat, lemak, dan juga termasuk serat di dalamnya, serta gizi mikro seperti vitamin, mineral, kalsium, besi, seng, dan folat.
Perilaku Makan Menyimpang
Anoreksia nervosa dan bulimia nervosa merupakan contoh perilaku makan yang menyimpang (eating disorder). Anoreksia nervosa merupakan upaya melaparkan diri sendiri dengan tidak makan, diikuti oleh penurunan berat badan, gangguan siklus menstruasi, dan penurunan kesehatan secara umum, tetapi penderita menolak dikatakan memiliki perilaku menyimpang dan merasa dirinya kegemukan. Sementara itu, bulimia nervosa didefinisikan sebagai penyimpangan perilaku makan yang dicirikan oleh periode makan terus-menerus (binge) dan pemuntahan (purging) berkaitan dengan makan berlebihan (overeating) karena hilang kendali dan overconcern terhadap berat badan. Penderita kekurangan perhatian orangtua dan keterlibatan dalam keluarga dan menjadikan makanan sebagai kompensasi. Pada gilirannya makan berlebihan membuat penderita malu dan membenci diri sendiri, dan merasa bersalah.
Anoreksia dan bulimia nervosa sama-sama memiliki ketakutan yang luar biasa terhadap kelebihan berat badan. Umumnya peningkatan risikonya sama-sama didorong tuntutan profesional seperti atlet renang, penari, pesenam, pelari, dan publik figur. Kebanyakan bulimia tidak anoreksik, tetapi banyak anoreksik juga mengalami bulimia. Penderita bulimia tidak membiarkan dirinya kelaparan kecuali berat badannya di atas normal. Pengobatan bulimia sama dengan pengobatan anoreksia yang meliputi pengobatan multidisiplin gizi, psikologis, dan medis.
Ahmad Syafiq menjelaskan pula jenis perilaku makan menyimpang lainnya seperti Nocturnal Eating Syndrome dan Orthorexia. Nocturnal Eating Syndrome merupakan perilaku makan dalam jumlah besar saat larut malam, dan sulit tidur. Penderita umumnya obes. Orthorexia merupakan obsesi secara psikologis yang mengakibatkan penderita tidak mau mengkonsumsi jenis makanan tertentu atau keseluruhan kelompok makanan yang dipercaya mmebahayakan kesehatannya. []
