Tahap FGD dan Penyelidikan PD dalam Pembentukan Pos Gizi Percontohan

Mar 14th, 2009 | By | Category: Berita

Yayasan Eureka Indonesia (YEI) telah menyelesaikan tahapan kegiatan Diskusi Kelompok Terarah (FGD) dan Penyelidikan PD dalam proses pembentukan Pos Gizi Percontohan di RW 04 Kelurahan Cigugur Tengah Kota Cimahi, Sabtu (07/03 dan 14/03).

Diskusi Kelompok Terarah (FGD) diikuti oleh kelompok ibu yang mengasuh balita, kelompok nenek yang mengasuh balita cucunya, kelompok pengasuh balita (tetangga), dan kelompok bapak yang mengasuh balita. Dari diskusi tersebut didapatkan banyak informasi mengenai kebiasaan-kebiasaan umum yang berlaku di masyarakat setempat terkait pemberian makan, pengasuhan, kebersihan, dan kesehatan balita.

Sebagian besar ibu pengasuh belum paham dengan baik tentang wacana ASI eksklusif, kolostrum, dan MP-ASI. Capaian ASI eksklusif sangat rendah karena bayi mendapatkan MP-ASI dini. Kebiasaan jajan menjadi hal yang sangat menggangu pola makan anak. Mencuci tangan tidak selalu menggunakan sabun. Meskipun demikian, tampaknya masyarakat sudah dengan cukup mudah mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang ditandai dengan capaian imunisasi yang baik.

Sejumlah informasi pun ditemukan dalam diskusi dengan kelompok nenek yang mengasuh balita cuucnya. Rata-rata mereka mengasuh cucunya 10-12 setiap hari. Sebagian besar ibu mempercayakan sepenuhnya pengasuhan anak pada neneknya. Tentunya karena dinilai telah memiliki banyak pengalaman, responden seringkali menjadi tempat bertanya anak-anak tentang pengasuhan cucunya.

Pengasuh balita selain ibu dan nenek umumnya tetangga dekat dengan umur 40-57 tahun. Setiap harinya, praktis tidak ada aktivitas lain yang berarti selain mengasuh anak yang dititipkan kepadanya, yaitu bermain bola, bernyanyi, dan diajak bermain ke rumah tetangga. Sebagian besar ibu mempercayakan sepenuhnya pengasuhan anak pada responden, hingga ada balita yang sampai bermalam di rumah pengasuhnya karena orang tuanya ke luar kota. Hanya 1 ibu yang setiap pagi menitipkan anaknya berikut bekal makanannya. Hal kritis tentang perilaku kebersihan adalah kebiasaan mencuci botol susu yang kurang steril.

Sedikit berbeda dengan kelompok bapak pengasuh. Karena istri yang bekerja, maka mereka mengasuh anak di rumah. Sebagian responden, dengan atau tanpa istrinya, biasa mempersiapkan makanan untuk siang dan malam, sementara untuk pagi biasanya membeli bubur atau nasi kuning. Sebagian lagi biasa membeli makanan jadi.

Perilaku Positif dan Negatif

Untuk melengkapi informasi, YEI bersama ibu-ibu kader RW 04 yang juga dilatih dalam pembentukan Pos Gizi tersebut melakukan kunjungan ke 8 rumah untuk pengelidikan PD/Positive Deviance, yaitu ke 4 keluarga PD (keluarga tidak mampu dengan balita gizi baik), 2 keluarga Non PD (keluarga tidak mampu dengan balira kekurangan gizi) dan 2 keluarga ND/Negative Deviance (keluarga mampu dengan balita kekurangan gizi).

Sejumlah temuan betul-betul kontradiktif. Dengan segala keterbatasan yang ada, Keluarga PD umumnya lebih telaten dalam pengasuhan anak, meskipun memberi makan anaknya hanya dengan kuah bakso dan oseng labu siam. sementara keluarga Non PD umumnya mengabaikan anak jika sulit makan dengan anggapan bahwa anak dengan sendirinya akan minta makan jika lapar.

Lain halnya dengan keluarga ND. Ada anak yang pola makan anaknya terganggu karena kebiasaan jajan. ada juga yang anak sejak bayi hingga 2 tahun dititipkan pada pengasuh sementara ibunya sibuk menjaga warung dan berjualan masakan. Diduga pola makan anak kurang terbentuk dengan baik selama 2 tahun tersebut. Sekarang, meskipun sudah dalam pengasuhan ibunya, tetap saja tidak mendapatkan perhatian yang cukup karena kesibukan ibu di warung.

Jarang Diare?

Dalam kunjungan rumah, tim merasakan keprihatinan melihat kondisi higiene dan sanitasi anak dan/atau rumahnya. Bagi keluarga ND, meskipun rumahnya permanen dan relatif bersih, tetap saja anak tampak kumal. Tidak ditemukan satupun anak yang berpakaian pantas untuk dilihat. Meskipun mengaku rajin mencuci tangan sebelum makan, tapi pengamatan sepintas pun membuktikan sebaliknya, anak langsung memegang makanan setelah bermain mobil-mobilan dan menjamah banyak barang.

Lebih memprihatinkan lagi keluarga tidak mampu dan tidak memiliki jamban di rumahnya. Jika malam hari atau tidak mungkin ke MCK umum, biasanya anak diceboki menggunakan air yang disiapkan dalam ember di depan rumah dan kotoran anak setelah buang air besar ditampung dalam kantong kresek dan dibuang ke kali kecil/saluran pembuangan air di depan/belakang rumah.

Meskipun kondisi higiene dan sanitasinya seperti itu, semua responden dalam kunjungan rumah mengaku bahwa anaknya jarang diare. Apakah anak sudah demikian “kebal” dengan kuman? tentunya perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya. []

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave Comment