Rentan Sakit Kala Hujan

Jan 27th, 2010 | By admin2 | Category: Fitur

Hambali tergolek di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Dia didiagnosis mengalami diare akut–akibat bakteri bersarang di ususnya. Setelah diinfus selama dua hari, kondisi pria 65 tahun ini mulai membaik. Pada hari ketiga, dokter sudah mengizinkannya pulang.

Sementara Aminah, 30 tahun, yang didiagnosis terkena demam berdarah, baru satu hari dirawat. Sebelum ada bintik-bintik merah, suhu tubuhnya amat tinggi.

Trombositnya juga rendah, yakni kurang dari 20 ribu per milimeter kubik. Trombosit normal dalam darah adalah 150-450 ribu per milimeter kubik. Aminah sekarang masih dalam perawatan dokter.

Dua pasien itu adalah pengidap penyakit yang umum muncul pada musim hujan. Meski belum menjadi kejadian luar biasa, Internis-Konsultan Gastroentero Hepatologi (saluran pencernaan dan hati), dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, mengidentifikasi bakal terjadi peningkatan kasus diare dan demam berdarah yang signifikan di beberapa rumah sakit di Ibu Kota. “Sekarang saja sudah ditemukan tiga kasus baru per minggunya,” tutur dia saat ditemui di Rumah Sakit Islam Jakarta, Jumat malam lalu.

Kondisi hujan yang hilang-timbul, dituding Ari, membuat lingkungan menjadi tidak higienis. Sanitasi menjadi buruk, sehingga meningkatkan kelahiran serangga, seperti nyamuk, kecoa, dan lalat. Sejumlah nyamuk serta lalat pembawa virus dan bakteri ini menginvasi dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya, lalat itu nemplok di makanan serta air bersih, sehingga menjadi tercemar.

Penyakit musim hujan ini, menurut Ari, mudah menjangkiti orang berdaya tahan tubuh rendah. Sebab, bagaimana pun, tubuh itu perlu penyesuaian dengan suhu lingkungan. Apalagi musim hujan plus banjir di Jakarta biasanya membuat tingkat kemacetan semakin tinggi, sehingga aktivitas mereka lebih banyak dihabiskan di jalan. Ini menjadi kelelahan tersendiri.

Belum lagi paparan polusi tinggi, yang tentunya memperburuk daya tahan tubuh. Di satu titik, terdapat lingkungan kotor, lalu ditambah jumlah kuman yang meningkat, namun daya tahan tubuh minus–akan bergaris lurus pada peningkatan kasus penyakit, seperti diare dan demam berdarah.

Dari komposisi pasiennya, tutur Ari, yang paling rentan terkena penyakit adalah anak-anak dan orang lanjut usia. Kandidat selanjutnya adalah orang yang mempunyai aktivitas tinggi di lapangan. “Kasus yang saya temukan umumnya karena kelelahan, misalnya dia sibuk bekerja dan cuma tidur 3-4 jam,” kata staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Sebenarnya, sebagai pencegahan, menurut Ari, masyarakat cukup memperhatikan tempat genangan air, serta memilih dan memilah makanan yang dikonsumsi. Kalau kebetulan menderita diare, sebagai tindakan awal bisa diatasi dengan meminum oralit. Nah, dosis oralit ini, kata Ari, disesuaikan dengan cairan yang keluar.

Obat antidiare yang beredar di pasar sebenarnya bisa digunakan. Namun, Ari menambahkan, obat itu sifatnya sesaat saja. Artinya, obat antidiare efektif digunakan 1-2 hari. Kalau keadaan tidak berubah, harus segera konsultasi ke dokter. “Obat antidiare memang bisa mengatasi salah makan, namun kalau sudah terinfeksi bakteri, biasanya perlu tambahan antibiotik,” tuturnya.

Lebih jauh, ancaman saat air bah bukan hanya itu. Binatang pengerat seperti tikus, menurut Dr Upik Kusumawati Hadi, M.S., pakar entomologi kesehatan di Institut Pertanian Bogor, juga membawa bibit penyakit leptospirosis atau penyakit kencing tikus. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira biasa dibawa oleh tikus. “Penularannya bisa saat orang kontak dengan genangan yang tercemar air seni hewan pembawa leptospirosis,” kata Upik. []

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2010/01/18/brk,20100118-219680,id.html

Tags: , , ,

Leave Comment