Remaja Putri Rentan HIV/AIDS
Nov 25th, 2008 | By admin2 | Category: Fitur, Gaya HidupRemaja putri rentan terhadap IMS, HIV/AIDS, dan kehamilan yang tak diinginkan, akibat kurangnya pengetahuan pencegahannya.
Konseling masalah HIV/AIDS untuk remaja bukan perkara mudah. Dibanding orang dewasa yang bisa terus terang, remaja biasanya masih malu-malu menceritakan masalah pribadinya. Apalagi kalau curhatnya terkait perihal perilaku seksual yang berganti-ganti pasangan atau kebiasaan bergantian jarum suntik.
“Makanya menangani remaja nggak ada patokannya. Kita ikuti kemauan dia agar merasa nyaman bercerita,” kata Enny Zuliatie, Manajer Program Pencegahan HIV/AIDS bagi remaja sekaligus bendahara dan pengurus Yayasan Pelita Ilmu (YPI) saat dikunjungi Jurnal Nasional di kantornya, Senin (17/11).
Tak heran, YPI sering memberi konseling tentang perilaku yang sehat dan aman di bawah pohon di halaman sekolah atau di food court sebuah mal. Jadi, jangan harap remaja akan langsung bisa diceramahi soal HIV/AIDS dan kondom. Apalagi remaja perempuan yang lebih cenderung bercerita mengenai masalah dalam hubungannya dengan pacar daripada tentang perilaku seksualnya. Bahkan, menurut data yang dimiliki Enny, di wilayah jangkauan program YPI di Cijantung, yang lebih umum datang berkonsultasi adalah laki-laki.
Sejak awal program YPI, kelihatan bahwa remaja maupun orang dewasa laki-laki kesadarannya lebih tinggi untuk melakukan hubungan seksual yang aman. Banyak laki-laki yang datang dan berkonsultasi serta minta kondom. Kalau perempuan lebih sering cerita tentang kekerasan berpacaran. Mereka sering dipukul atau takut diputusin kalau nggak mau dicium, katanya. Seks dan maskulinitas kaum muda laki-laki secara umum menempatkan perempuan sebagai obyek seks. Akhirnya mereka cenderung memaksakan keinginan untuk membuktikan kejantanannya dalam berhubungan seksual tanpa memerhatikan risiko yang mengancam pasangannya (remaja putri), termasuk mengabaikan penggunaan kondom yang dapat mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual. Sebaliknya, para remaja putri minim kendali dalam menggunakan hak menolak hubungan seks yang tidak diinginkannya atau tidak aman. Ini adalah faktor yang membuat remaja putri sangat rentan terhadap IMS (Infeksi Menular Seksual), HIV/AIDS, dan kehamilan yang tak diinginkan.
Seperti yang dituliskan dalam situs Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama, www.ippnu-pusat.org., hal ini menggambarkan betapa posisi tawar perempuan masih sangat rendah untuk melindungi dirinya, khususnya dari akibat berganti pasangan atau bergantian jarum suntik. Padahal, selain IMS, termasuk HIV/AIDS, perempuan juga bisa hamil jika melakukan hubungan seksual tanpa pengaman.
Masalah yang sama juga ditemui pada remaja putri yang menjual diri. Sering kali mereka tidak punya posisi tawar untuk meminta pelanggannya memakai kondom, meskipun sang Pekerja Seks Komersial (PSK) sudah memahami mengenai pentingnya kondom.
“Wajar saja Yang punya uang kan pelanggannya. Jadi PSK tidak bisa memaksa untuk pakai kondom,” kata Director for Health Care Yayasan Kusuma Buana, DR. Adi Sasongko, MA.
Survei yang digelar BPS dan Depkes pada tahun 2003 menunjukkan bahwa dari 3.851 responden laki-laki dewasa 51 persen aktif berhubungan seksual dengan lebih dari seorang perempuan. Bahkan tercatat, ada 18 persen responden yang aktif berhubungan seksual dengan sembilan perempuan dalam setahun terakhir. Jika laki-laki itu mengidap HIV dan tidak pernah menggunakan kondom, maka ada sembilan perempuan tertular HIV hanya dari satu sumber.
Hal ini diungkapkan Jaringan Aksi Nasional Pengurangan Dampak Buruk Narkoba Suntik dalam artikel Perempuan 2,5 kali Lebih Rentan Terhadap HIV di situsnya, www.jangkar.org. Inilah mengapa di Yayasan Kusuma Buana berusaha menjangkau kaum laki-laki. Utamanya mereka yang digolongkan berisiko tinggi, yaitu pelanggan PSK.
Seperti mereka yang pekerjaannya berkeliling (itinerrant) dan jauh dari rumah, seperti nelayan, pelaut, pekerja tambang, dan tentara. Menurut Adi, jika pelanggannya tercukupi oleh edukasi, maka PSK-nya (yang 45 persen adalah remaja putri di bawah usia 25 tahun) juga jadi terlindungi, baik dari IMS, HIV/AIDS, dan kehamilan tak diinginkan.
“Sering kami memberikan konseling terhadap PSK remaja yang ternyata tidak tahu risiko pekerjaannya. Beberapa tahu kebersihan pelanggannya karena ada juga yang diminta memandikan. Tapi, apakah dengan hubungan seksual ada infeksi tak terlihat yang bisa menular, mereka belum tahu,” kata Enny lagi.
Kurangnya pengetahuan dan keingintahuan remaja putri terhadap IMS, HIV/AIDS, dan kehamilan tak diinginkan, ini membuktikan adanya urgensi sosialisasi edukasi pencegahan HIV/AIDS pada remaja putri. []
Sumber (dengan editing seperlunya):
http://www.aidsindonesia.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=2919&Itemid=72
