Refleksi 1 Tahun Yayasan Eureka Indonesia
Jan 29th, 2009 | By admin2 | Category: FiturSederhana saja, Yayasan eureka Indonesia (YEI) lahir dari sebuah idealisme. Setahun yang lalu, di salah satu sudut kampus, kami berbagi cerita tentang pengalaman penyuluhan kesehatan di masyarakat. Pasti menyenangkan jika lebih sering lagi ‘terjun’ ke masyarakat, pikir kami.
Maka munculah ide untuk mendirikan sebuah lembaga yang dapat menjadi ‘kendaraan’ bagi kami untuk lebih mudah dan lebih intensif lagi ‘terjun’ke masyarakat. Apa bentuknya? kami belum tahu.
Selanjutnya, skenario Allah swt sangat sempurna. Bukan kebetulan ketika kami bertemu dengan salah seorang dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Kusdinar Achmad namanya. Orang-orang memanggilnya Pak Kus. Bukan kebetulan juga ketika beliau lahir dan dibesarkan di kota ini. Ibarat gayung bersambut, beliau langsung mendukung ide pendirian lembaga yang kami cita-citakan.
Skenario Allah swt pula yang membawa kami bertemu dengan salah satu mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Sama dengan Pak Kus, dr. Djamhur pun sangat mendukung pendirian YEI.
“Eureka!” Archimides bersorak girang tatkala berendam di bak mandinya. I have found it, kurang lebih begitulah artinya. Kemudian orang mengenal teorinya dengan sebutan Hukum Archimides.
Kami pun menamai lembaga ini Eureka. Formatnya yayasan, namun kemudian orang menyebutnya sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Apapun sebutannya, bukanlah hal yang perlu diperdebatkan. Kami cantumkan pula kata Indonesia, dengan harapan suatu hari nanti lembaga ini dapat berkiprah minimal di level nasional. Apapun isu dan momentumnya, kami akan terdepan dalam aktivitas promosi kesehatan.
bersama YEI, kami memasuki ‘belantara’ third sectors. Kami betul-betul buta akan dunia LSM. ‘Terjun Bebas’ tampaknya istilah yang cukup tepat menggambarkan sepak terjang kami menyelami seluk-beluk LSM.
Satu tahun menggerakkan roda lembaga ternyata tidak mudah. Banyak hambatan kami hadapi, berikut risikonya. Tapi ‘the show must go on‘, itulah prinsip kami.
Sempat dalam beberapa kesempatan memperkenalkan lembaga, kami harus menghadapi stigma negatif tentang LSM. “LSM itu kan biasanya cuma bisa teriak jika lapar, dan baru akan diam jika diberi makan’” wow, that’s hurt!
However, ‘the show must go on‘. Kami akan buktikan kepada publik bahwa YEI bukanlah LSM seperti yang mereka kira. YEI memiliki prinsip dan idealisme. Kami pun mengantongi kepercayaan para pendiri, pembina, dan pengawas lembaga yang harus kami jaga dengan baik. Kami akan buktikan komitmen YEI terhadap perbaikan derajat kesehatan masyarakat.
Untuk itu, tentunya kami tidak dapat memperjuangkannya sendiri. “Health is Everybody Business“. Semua stakeholder kesehatan, baik itu public sectors, private sectors, dan juga third sectors lainnya seharusnya memiliki kepentingan yang sama untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan lebih baik. Semoga… []