Rechecking Kota Siaga Tingkat Provinsi Jawa Barat
Oct 22nd, 2008 | By admin2 | Category: BeritaBerdasarkan hasil penilaian presentasi kegiatan pengembangan Program Siaga di Kota Cimahi pada bulan Juli yang lalu, maka Kota Cimahi dinyatakan masuk ke dalam kategori 4 besar Kota Siaga terbaik di Jawa Barat tahun 2008. Untuk mengetahui kesesuaiannya di lapangan, maka pada hari Selasa (21/10) dilakukan rechecking oleh tim penilai dari Dinas Kesehatan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat.
Di awal kegiatan, tim penilai diterima oleh Sekretaris Daerah beserta para asistennya mewakili Walikota di Aula Gedung A Kompleks Pemerintah Daerah Kota Cimahi. Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Kota Cimahi, Encep Saefulloh, menyampaikan harapannya agar program Siaga di Kota Cimahi dapat berkelanjutan dan terbentuk hingga ke seluruh Rukun Warga yang ada di Kota Cimahi.
Proses rechecking diawali dengan kunjungan ke Sekretariat Kota Siaga di Kantor PKK Kota Cimahi. Turut hadir mengikuti proses penilaian tersebut Ketua Yayasan Eureka Indonesia (YEI) sebagai LSM kesehatan yang sepanjang tahun 2008 telah turut mendukung suksesnya pengembangan Program Siaga di Kota Cimahi. Penilaian melalui metode wawancara dilakukan dengan pertanyaaan seputar aktivitas LSM dan juga kontribusinya bagi pengembangan Kota Siaga.
Setelah itu, 6 orang tim penilai dibagi menjadi dua kelompok untuk melakukan rechecking ke tingkat kecamatan, kelurahan, hingga tingkat RW. Tim pertama berkunjung ke sekretariat Kecamatan Siaga di Kecamatan Cimahi Tengah, sekretariat Kelurahan Siaga di Kelurahan Cigugur Tengah, dan RW siaga di RW 07. Tim kedua berkunjung ke sekretariat Kecamatan Siaga di Kecamatan Cimahi Utara, sekretariat Kelurahan Siaga di Kelurahan Cibabat, dan RW siaga di RW 15.
Dalam rechecking tersebut, Kota Cimahi bersaing dengan Kota Cirebon, Kota Depok, dan Kota Banjar. “Kota Cimahi berhasil menyisihkan sejumlah kota lainnya di Jawa Barat. Beberapa hal yang menjadi keunggulan Kota Cimahi diantaranya komitmen pemerintah daerah yang cukup besar dalam mendukung Program Siaga, sarana dan prasarana kesehatan yang cukup memadai, pelayanan puskesmas hingga layanan bersalin, serta pencapaian target pengorganisasian Siaga di seluruh kelurahan dan 70% RW yang ada di Kota Cimahi,” jelas Drg. Pratiwi, M.Kes., Kabid Yankesmas Dinas Kesehatan Kota Cimahi.
Bagi Kota Cimahi, masuk ke dalam kategori 4 besar Kota Siaga merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. “Kita lihat bahwa tiga kota lainnya adalah pemenang Kota Siaga pada tahun-tahun sebelumnya. Jadi, apapun hasil penilaiannya, ini sudah menjadi prestasi yang luar biasa bagi Kota Cimahi,” tambah Pratiwi.
Sosialisasi Program YKI
Pada hari yang sama, di siang harinya, Yayasan Kontak Indonesia (YKI) melaksanakan paparan Program Pencegahan IMS dan HIV-AIDS Melalui Proses Perubahan Perilaku di Wilayah Bandung Raya. Acara dilaksanakan di Puskesmas Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Selasa (21/10), dan dihadiri pula oleh Yayasan Eureka Indonesia sebagai observer.
Dalam sambutannya Dr. Pudjiastuti dari Dinas Kesehatan Kota Cimahi mengatakan bahwa selama ini Puskesmas mengalami kendala dalam menjangkau waria dan wanita pekerja seks (WPS) sebagai kelompok berisiko tinggi IMS dan HIV-AIDS. Oleh karenanya, kehadiran program ini dinilai sangat membantu Dinas Kesehatan Kota Cimahi dalam akselerasi pencegahan dan penularan HIV-AIDS.
Dalam program ini, YKI tidak menyediakan klinik khusus. Program dirancang untuk pemetaan, penjangkauan, dan pendampingan kelompok berisiko tinggi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas. “Kami menilai Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan yang permanen, mudah dijangkau, dan dengan pembiayaan yang relatif murah jika dibandingkan dengan klinik swasta. Ketika nanti program sudah berakhir, diharapkan kelompok dampingan dapat terus mengakses pelayanan kesehatan yang diperlukan,” papar Dr. Chadidjah, Direktur Yayasan Kontak Indonesia.
Chadidjah menilai Kota Cimahi memiliki pendukung sarana dan prasarana kesehatan yang memadai untuk mendukung suksesnya program tersebut, diantaranya 10 Puskesmas dan 3 Pustu di 15 kelurahan, 12 orang konselor VCT yang tersebar di 10 Puskesmas, serta tenaga analis kesehatan di masing-masing Puskesmas.
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cimahi mencatat ada sekitar 90 waria yang berdomisili di Kota Cimahi. Jumlah ini cukup banyak untuk ukuran kota sekecil Cimahi. Hingga saat ini sudah 5 anak tertular HIV-AIDS dari ibunya dan 2 di antaranya sudah meninggal. “Jika tercatat ada 23 WPS, maka secara teori diperkirakan ada tiga kali lipat atau sekitar 69 WPS di lapangan yang harus dijangkau,” jelas Chadidjah.
Mengingat di Cimahi tidak ada lokalisasi dan mobilitas WPS sangat tinggi, terutama ke Kota Bandung, praktis sulit untuk menjangkau WPS langsung di Kota Cimahi. Meskipun demikian, Chadidjah mengatakan bahwa masih sangat mungkin untuk menjangkau WPS tidak langsung, misalnya mereka yang bekerja di pabrik-pabrik, panti pijat, dan karaoke.
Program ini didanai oleh Family Health International (FHI). Sejumlah kegiatan telah dirancang untuk dilaksanakan di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Bandung Barat hingga bulan Juni tahun 2009 nanti. []