Pangan Non Beras dan Non Tepung: Mantap!
Apr 22nd, 2009 | By admin2 | Category: BeritaDalam rangka praktik mata kuliah Gizi Kesehatan Masyarakat dan sosialisasi wacana diversifikasi pangan, mahasiswa Semester IV Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Stikes A. Yani Cimahi melaksanakan praktik dan pameran Penganekaragaman Pangan Non Beras dan Non Tepung, Rabu (22/04), di Hotspot Area Stikes A. Yani Cimahi.
Saat ini beras dan tepung masih menjadi bahan pangan sumber energi utama yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia. Kecuali di beberapa daerah, masyarakat kita belum terbiasa dengan pangan non beras dan non tepung. “Padahal banyak bahan pangan non beras dan non tepung yang tak kalah nilai gizi dan citarasanya jika diolah secara kreatif. Apalagi saat ini kondisi ekonomi semakin sulit, harga beras juga menjadi tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat, maka sangat dianjurkan agar masyarakat mulai beralih ke bahan pangan pokok selain beras dan tepung” jelas Susilowati, S.KM., dosen Stikes A. Yani Cimahi sekaligus Pembina Yayasan Eureka Indonesia.
Dalam pameran ini ditampilkan 5 menu dengan bahan utama non beras dan non tepung, yaitu jagung, singkong, ubi, talas, dan kentang. Dengan sedikit kreativitas, ternyata menu yang disajikan tidak kalah citarasanya dari makanan yang dibuat dari beras atau tepung.
Nasi jagung ternyata sangat nikmat disajikan dengan ikan nila asam manis dan tahu isi. Nasi singkong pun sangat lezat dipadukan dengan gulai daun singkong dan sambal goreng teri. Skotel kentang sayur juga “mak nyos”. nasi sagu rebon mantap sekali dimakan dengan skotel tahu dan sambal terasi. Steak Ubi dengan daging cincang saus spaghetti menjadi menu favorit pengunjung. Dilengkapi dengan berbagai minuman dan jus buah menjadikan menu yang disajikan betul-betul memenuhi kriteria gizi seimbang.
Diversifikasi Pangan
Selain menjadi ajang praktik mahasiswa, kegiatan ini dirancang untuk mensosialisasikan wacana diversifikasi pangan. Patut disadari bahwa sejak swasembada beras masyarakat mulai meninggalkan konsumsi bahan makanan pokok non beras dan non tepung. Meskipun beberapa komunitas masih mempertahankannya, tetapi hanya bersifat lokal saja, dan lebih didominasi oleh alasan adat, kebiasaan turun-temurun, dan kepercayaan tertentu.
Saat ini masyarakat diharapkan dapat mengurangi ketergantungannya pada bahan pangan beras dan tepung. Apalagi sebagian besar masyarakat masih berganggapan bahwa belum dikatakan makan jika belum makan nasi. []







Kita punya banyak sekali sumber karbohidrat pendamping beras. (Saya lebih suka menggunakan istilah pendamping, agar memberikan semangat bahwa bahan pangan lokal ini serasi bila dicampur dengan beras. Kata yang berkonotasi negatif seperti non-beras rasanya membuat orang langsung berpikir bahwa beras adalah lebih positif daripada yang non-beras). Misalnya ubi-ubian (umbi-umbian): ubi jalar, singkong, keladi, dan lain-lainnya, lantas sagu, jangung, sukun, labu kuning. Semuanya adalah sumber karbohidrat yang kaya, dan indeks glikemiknya lebih rendah daripada beras. Artinya bahan pangan lokal pendamping beras ini baik untuk mencegah diabetes.
Benar bahwa nasi dari beras lebih enak, lebih kaya nutrisi, dan status sosialnya tinggi. namun bahan pangan lokal pendamping beras bisa diperkaya (difortifikasi) dengan nutrisi dan vitamin. Tantangan sosialisasi bahan pangan ini agaknya lebih pada status sosialnya. Kita perlu melakukan upaya besar agar status sosial bahan pangan lokal pendamping beras ini naik setara beras bila ingin kita tidak hanya tergantung pada beras.
Saya salut pada tulisan di atas yang mempromosikan bahan pangan lokal pendamping beras. Karena mau tak mau kita harus mulai mengkonsumsinya sebagai pengganti nasi. Mi dan roti, yang selama ini menjadi bahan pangan kedua dan ketiga bangsa Indonesia, saya kira mengandung dua dosa: Tidak nasionalis karena bahan dasarnya impor yang oleh karena itu tidak memihak pada petani sendiri, dan dua adalah dosa carbon foot-print karena terigu diangkut dengan kapal laut menyeberangi lautan yang jauh yang membutuhkan bahan bakar yang mengotori bumi.
Mengkonsumi bahan pangan lokal pendamping beras sebagai pangan utama, misalnya dengan mencampurnya dengan nasi seperti orang bali makan nasi sela (nasi campur ubi jalar), akan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi rakyat desa, menurunkan ketergantungan pada padi sehingga tak perlu impor, dan bila hal ini tercapai maka akan memberikan kedaulatan pangan pada negeri tercinta kaya-raya yang tidak sadar akan kekayaannya ini.
Bayangkanlah apabila seminggu dua kali keluarga-keluarga di Indonesia mencampur nasinya dengan bahan pangan lokal seperti sagu, jagung, pisang, sukun, labu kuning, ubi-ubian. yang mana bahan-bahan tersebut tak perlu diimpor, namun diperoleh secara lokal (agar carbon foot print-nya renda). Dan anak-anak mulai mengkonsumsi pangan tersebut sebagai nasi. Alangkah sehat kita semua….
Tantangan bagi teknologi pangan, selain membuat bahan pangan tersebut lebih mudah diolah dan dikonsumsi misalnya dalam bentuk granula atau dalam bentuk dried cubes sehingga bisa langsung dimasak bersama beras di dalam rice cooker, ada tantangan besar yang menghadang untuk ide indah ini. Yaitu sosialisasi ke seluruh jajaran agar bahan pangan pangan tersebut meningkat nilai/status sosialnya.
Salam.