Netty Heryawan, “PKK New Look dan New Image”
Oct 17th, 2008 | By admin2 | Category: BeritaForum Diskusi Wartawan Bandung (FDWB) menggelar acara rutin bulanan media gathering dengan tema “Kesatuan Gerak PKK KB-Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2008″ di Sekretariat FDWB di Sasana Budaya Ganesha Lantai 1 Babakan Siliwangi Bandung pada hari Jumat (17/10) pukul 14.00-16.00 WIB. Hadir sebagai narasumber Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat Hj. Netty Prasetyani Heryawan, SS., Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Dr. H. Hanyrono Sulistyo, Sp.OG., dan Kepala BKKBN Provinsi Jawa Barat Drs. H. Bunyamin, M.Si.
Dalam paparannya, Netty menyampaikan bahwa komitmen jajaran PKK dalam mendukung program KB dan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan IPM di Jawa Barat. Sebagai outcome dari Kesatuan Gerak PKK KB-Kesehatan ini PKK berharap peningkatan kemampuan masyarakat dalam menekan angka kejadian penyakit infeksi dan angka kematian ibu dan bayi di Jawa Barat. Sebagai contoh, hingga tanggal 16 Oktober tercatat 16.901 kasus DBD di Jawa Barat dengan 135 orang meningal. Yang terbesar di Bandung sebanyak 3.057 kasus dengan 3 orang meninggal. Setelah itu Depok dan Bekasi. “Sebagai benefit dari suksesnya kesatuan gerak ini adalah berkurangnya beban kerja Dinas Kesehatan,” jelas Netty.
Menyambung paparan dari Ketua Tim Penggerak PKK, Hanyrono menyatakan bahwa 75% penyelesaian masalah kesehatan sebenarnya ada pada masyarakat itu sendiri dan para Kader PKK berkontribusi besar di dalamnya. Dinas Kesehatan berharap dukungan PKK untuk membangun ketahanan keluarga di bidang kesehatan. Sebagaimana diketahui, Jawa Barat menempati urutan ke-2 dalam jumlah penderita HIV/AIDS dan lebih dari 70% diderita oleh generasi muda. Hany juga menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan tengah merancang UPTD Jamkesmas Jawa Barat di tahun 2009. Dengan sistem asuransi dan sharing biaya kesehatan antara pemerintah dan masyarakat, maka masyarakat akan mendapatkan jaminan pelayanan kesehatan secara gratis hanya dengan membayar premi sebesar lima ribu rupiah saja setiap bulannya. “Jika dikalkulasikan, masih akan diperoleh margin yang dapat digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana kesehatan,” tegas Hanyrono optimis.
Dalam paparan ketiga, Bunyamin menyampaikan bahwa di masyarakat banyak ditemukan salah persepsi mengenai program KB. “KB adalah family planning, menjadikan keluarga kecil bahagia dan sejahtera, dan tidak hanya terbatas pada kontrasepsi saja,” jelasnya. Melalui KB, diharapkan masyarakat memahami tentang siklus hidup dan reproduksi, serta memiliki keinginan untuk hidup sehat. Ibu hamil dan bayi, remaja, dan lansia merupakan sasaran BKKBN. Pada tahun 2009 nanti diharapkan semua rumah sakit siaga melayani KB berikut perangkat KIE-nya. BKKBN pun terus mengupayakan peningkatan rata-rata usia pertama menikah perempuan di Jawa Barat dari 17 tahun hingga di atas 20 tahun. “Untuk itu digulirkan pula program Bina Kesehatan Remaja dan Bina Kesehatan Lansia,” tambah Bunyamin.
Dalam sesi tanya-jawab, Netty sangat antusias sekali menyikapi isu pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, dan partisipasi laki-laki di bidang kesehatan. Menurutnya, perempuan dan laki-laki hanya berbeda secara biologis saja. Selebihnya dalam keseharian laki-laki dan perempuan dapat saling melengkapi dan berganti peran. “Telah terjadi kesalahan pembakuan konstruksi sosial dalam hal gender. Namun perlu diingat bahwa pemberdayaan perempuan tidak akan pernah berhasil jika tidak mendapat dukungan dan pengertian dari laki-laki,” jawabnya.
Dalam menjawab pertanyaan, Hanyrono memaparkan sejumlah data dan informasi kesehatan. “Sebenarnya kunci efisiensi anggaran,khususnya di bidang kesehatan, adalah memandirikan masyarakat,” tegas Hanyrono. Sementara itu Bunyamin mengakui bahwa partisipasi laki-laki dalam program KB masih sangat rendah, hanya 4% saja yang mengikuti kontrasepsi baik itu dengan menggunakan kondom atau vasektomi. Dalam hal kualitas pendataan kesehatan, Hanyrono menilai bahwa saat ini Indonesia belum siap secara sistem. “Idealnya berlaku sejenis smart card. Tinggal gesek saja, maka semua keperluan pendataan dan administasi pelayanan kesehatan akan tersedia bagi semua pihak. Ini memang investasi yang cukup besar,” jelasnya. Di sisi lain Bunyamin melihat bahwa lemahnya data kesehatan pada khususnya dan data kependudukan pada umumnya dikarenakan masih minimnya SDM pendataan. “Sejauh ini kader PKK juga yang bekerja di lapangan,” Bunyamin menanggapi.
Di akhir gathering, Netty mengakui bahwa mayoritas kader PKK memang berada pada usia yang secara teori mulai kurang produktif. Hal ini tentunya cukup berpengaruh pada berputarnya roda organisasi. Sebagai terobosan kreatif, Netty berjanji akan mengupayakan reward bagi para Kader PKK yang berprestasi. “Saya ingin PKK nantinya mampu tampil dengan new look dan new image. Jangan lagi ada opini bahwa PKK identik dengan kongkow-kongkow saja,” pernyataan Netty kontan disambut dengan senyum dan tawa para wartawan. []
