Menyoal Diet Populer di Masyarakat

Jun 4th, 2008 | By | Category: Berita

Orang itu adalah apa yang ia makan.

Makanan merupakan salah satu dari sejumlah faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap kesehatan. Setelah ditelusuri, berbagai penyakit timbul karena (diantaranya) pola makan yang tidak sehat. Saat ini orang berlomba-lomba melakukan diet untuk tetap sehat dan kembali sehat, termasuk di dalamnya upaya untuk mengatasi kelebihan berat badan (obesitas, overweight).

Di samping aspek manfaat, diet tidak terlepas pula dari aspek masalah. Sejumlah metode diet ternyata cukup populer di masyarakat. Sebagian orang berhasil dengan metode diet yang dipilihnya, namun sebagian lagi justru mendapatkan masalah kesehatan yang lebih besar karena kegagalan diet. Tidak sedikit orang yang dibuat bingung dengan pilihan metode diet, ”Diet seperti apa yang cocok bagi Saya?”.

Mencermati fenomena tersebut, mahasiswa Program Pasca Sarjana Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat FKM Universitas Indonesia menyelenggarakan ”Seminar Ilmiah Trend Diet di Masyarakat” yang diselenggarakan pada tanggal 26 Mei 2008 di Ruang Promosi Doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat. ”Melalui seminar ini diharapkan masyarakat akan mendapatkan informasi yang objektif mengenai berbagai metode diet yang saat ini populer,” jelas Farida Yuniarty, Ketua Panitia Pelaksana.

Hadir dalam seminar tersebut Prof. Dr. Maitree Suttajit, M.D. (President of Asian Vegetarian Union), Prof. Waluyo Suryodibroto, Ph.D. (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), dan dr. Syafrie Gurrici, M.Sc. (Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia).

Komparasi

Selain didukung oleh sejumlah data dan fakta yang ilmiah, tampaknya masing-masing metode diet pun memiliki sisi kelemahan. Jika orang mengira semua vegetarian itu hanya mengkonsumsi buah dan sayur (Vegan Vegetarian), ternyata tidak demikian kenyataannya. Prof. Dr. Maitree Suttajit, M.D. menjelaskan bahwa sebagian vegetarian ada yang tetap mengkonsumsi susu dan telur (Lacto-Ovo Vegetarian), ada yang tetap mengkonsumsi susu atau telur (Lacto-or-Ovo Vegetarian). Ada pula jay food yang menjadi ciri khas vegetarian China.

Ada vegetarian temporer dan ada vegetarian permanen. Vegetarian temporer masih mengkonsumsi daging dan telur. 21% vegetarian di Amerika merupakan vegetarian temporer yang masih mengkonsumsi daging dan telur setidaknya sebulan sekali. Tidak dapat dipungkiri bahwa daging dan telur memiliki nutrisi yang tidak terdapat pada sayuran dan buah-buahan. Jadi vegetarian temporer memilih untuk sesekali mengkonsumsi daging dan telur untuk menghindari kemungkinan defisiensi sejumlah nutrisi.

Sebagai pembicara kedua, Prof. Waluyo Suryodibroto, Ph.D. tampil mempresentasikan Food Combining dan Blood Type Diet. Terungkap ada beberapa titik kelemahan pada kedua metode diet tersebut. Secara umum Food Combining sejalan dengan prinsip diet gizi seimbang. Namun konsep Don’t Mix Foods that Fight dinilai kurang didukung oleh fakta sehingga kurang jelas mengapa kelompok makanan A (protein) tidak boleh dicampur atau dimakan bersamaan dengan kelompok makanan C (pati). Itulah mnegapa sebagian orang yang tidak setuju dengan Food Combining menyebut konsep William H. Hay ini sebagai tahayul moderen.

Dari segi ilmiah, Blood Type Diet tampaknya lebih lemah lagi. Dr. Peter D’Adamo tidak (atau kurang) memberikan penjelasan ilmiah sejalah perkembangan golongan darah dari O hingga AB. Begitu pula dengan konsep diet yang berbeda bagi masing-masing golongan darah. ”Akurasi informasi tentang ini sangat lemah. Bahkan ditemukan pula beberapa pengertian yang berbeda dengan ilmu gizi baku. Itu pula yang menyebabkan sebagian orang menyebutnya sebagai tahayul modern,” ungkap Waluyo.

Sebagai pembicara terakhir, dr. Syafrie Gurrici, M.Sc. menyajikan konsep Diet Gizi Seimbang. Konsep diet ini memang didasarkan pada ilmu gizi yang baku, jadi praktis cukup jauh dari kontroversi. Tetapi dengan adanya berbagai faktor yang mempengaruhi pilihan makanan, maka panduan gizi seimbang tidak sepenuhnya sama di satu tempat (komunitas/daerah/negara) dengan tempat lainnya. “DI Indonesia dianjurkan untuk mengkonsumsi garam beryodium, sementara di Amerika dan Jepang sudah lazim digunakan garam buatan yang tidak mengandung Natrium,” demikian Syafrie menjelaskan berbagai perbedaan panduan gizi seimbang di berbagai negara. “Semua bergantung pada pembuat kebijakan,” tambahnya.

Syafrie pun menjelaskan bahwa dalam tataran praktis banyak ditemukan kendala dalam penerapan gizi seimbang. Di negara berkembang seperti Indonesia misalnya, agak sulit untuk menerapkan konsumsi aneka ragam makanan. “Jangankan untuk mengkonsumsi aneka ragam makanan, untuk sekadar makan sekali sehari pun banyak yang kesulitan,” jelasnya.

Catatan

Secara umum, acara seminar berlangsung dengan baik. Namun ada beberapa hal kecil yang sepertinya dapat menjadi bahan evaluasi.

Pertama, seminar berlangsung datar. Setting acara dimana pembicara tampil satu persatu membuat acara seminar kurang dinamis. Apalagi alokasi waktu untuk sesi tanya-jawabnya terlalu singkat. Mungkin acara akan lebih menarik jika settingnya diskusi panel atau talkshow sehingga dapat lebih interaktif dengan peserta.

Kedua, Tidak ada pembicara yang secara khusus menganut Blood Type Diet dan Atkin’s Diet. Padahal kedua motode diet inilah yang justru banyak menimbulkan kontroversi.

Ketiga, seminar praktis berjalan pada jalur yang ”aman”. Tidak ada pro dan kontra. Moderator yang berafiliasi pada salah satu metode diet mungkin berpengaruh pada acara yang terkesan jadi hampa.

Keempat, tidak ada kesimpulan di akhir seminar. Peserta tidak mendapatkan poin objektivitas dalam menyikapi perbedaan metode diet yang populer di tengah-tengah masyarakat.

Ada pula beberapa hal yang tidak terungkap dalam seminar, diantaranya sejauh mana faktor psikologis akan berpengaruh terhadap kesuksesan diet. ”Tentu sangat berpengaruh. Maka dari itu dalam ilmu gizi dikenal pula psikologi nutrisi,” jawab dr. H.E. Kusdinar Achmad, MD., MPH., salah satu dosen FKM UI ketika ditanya mengenai hal tersebut di luar forum. [af]

Tags: , , , , , , , ,

Leave Comment