Menyiapkan Makanan Pendamping ASI
Apr 16th, 2008 | By Admin | Category: Ibu dan AnakOleh: Susilowati, S.KM.
Dosen Kopertis Wilayah IV Dpk di Stikes A. Yani Cimahi
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang ideal harus mengandung: (1) makanan pokok (yang paling banyak dikonsumsi oleh keluarga, biasanya makanan yang mengandung tepung seperti beras, gandum, kentang dan tepung maizena) ditambah dengan bahan lain seperti (2) kacang, sayuran berdaun hijau atau kuning, (3) buah, (4) daging hewan dan (5) minyak atau lemak. Bahan ini dibuat menjadi bubur. Makanan pokok direbus di dalam air atau susu sampai menjadi bubur yang kental dan tidak terlalu cair, kemudian diperkaya dengan sedikit minyak atau lemak.
Untuk memudahkan penyiapan MP-ASI, bahan makanan sebaiknya dipilih yang mudah didapat (banyak tersedia di kebun keluarga atau di pasar terdekat), harganya murah dan paling sering dimakan (merupakan bagian dari apa yang dimakan oleh anggota keluarga yang lebih besar atau dewasa) dan sebaiknya diramu dengan resep lokal.
Campuran MP-ASI yang terdiri dari dua jenis bahan makanan disebut campuran sederhana, sementara yang terdiri dari tiga atau empat jenis bahan makanan disebut campuran majemuk.
Campuran majemuk mungkin terlalu mahal untuk beberapa keluarga. Namun tidak terlalu penting untuk mengadakan golongan kacang dan hewan dalam satu campuran. Jika bayi sudah dapat memakan makanan yang dibuat dari dua bahan, tentu saja dalam berbagai variasi campuran, atau setidaknya dua jenis dari campuran tiga bahan, makanan tersebut sudah sebaik campuran empat bahan.
Jika minyak atau lemak tidak tersedia, ke dalam setiap campuran makanan dapat ditambahkan madu. Bagaimanapun minyak dan lemak jauh lebih baik karena disamping memasok energi juga dapat melunakkan dan melezatkan makanan. Jangan lupa memberikan buah-buahan atau sari buah pada setiap waktu makan atau sebagai makanan selingan di antara dua waktu makan.
MP-ASI baru boleh diberikan setelah bayi diberi ASI/Pengganti ASI (susu formula). Kemudian secara berangsur ASI/PASI dapat dapat berubah fungsi sebagai makanan pendamping dan makanan sapihan menjadi makanan utama.
Pemberian pertama cukup dua kali sehari, satu atau dua sendok teh penuh. Kebutuhan bayi akan meningkat seiring dengan tumbuh kembangnya. Jika bayi telah menggemari makanan baru tersebut, ia akan mengonsumsi 3-6 sendok besar penuh setiap kali makan. Namun jangan lupa bahwa bayi tetap membutuhkan ASI/PASI. Pada umur 6-9 bulan, setidaknya bayi membutuhkan empat porsi makanan. Jika dengan takaran tersebut bayi masih kelaparan, beri makanan selingan seperti pisang atau biskuit. Buah-buahan merupakan makanan selingan yang sempurna. Bayi memerlukan sesuatu untuk dimakan setiap dua jam begitu ia terbangun.
Menginjak umur 9 bulan bayi telah mempunyai gigi dan sudah mulai pandai mengunyah kepingan makanan. Sekitar umur setahun bayi sudah mampu memakan makanan orang dewasa. Pada saat itu ia makan (mungkin) empat sampai lima kali sehari. Anak umur 2 tahun memerlukan makanan separuh makanan orang dewasa.
Saat ini MP-ASI instan dapat kita temukan dengan mudah dalam bentuk instan di pasaran. Sebagian besar bubur susu yang beredar di Indonesia sudah dimasak terlebih dahulu dan dikeringkan sebagai bubuk. Jika diperlukan, cukup seduh dengan air panas sesuai petunjuk penggunaan maka bubur tersebut siap dihidangkan. Biasanya diperlukan sekitar 40 g bubuk tiap kali pemberian untuk mencapai energi sebanyak 160-170 kkal.
Selain itu, tersedia pula sejumlah pilihan makanan tepung yang sudah dimasak (precooked) ataupun belum dalam kemasan kaleng atau kantong alumunium. Meskipun demikian, tepung tersebut bukanlah makanan bayi lengkap karena harus ditambah dengan susu, gula atau bahan makanan lainnya.[]

bu, mana lebih baik MPASI instan atau yang disiapkan sendiri oleh ibu di rumah?
Saya senang memasak dan menyiapkan sendiri makanan untuk anak saya (laki-laki usia 3 tahun). Tapi anak saya tidak mau makan sayur bagaimana ya mensiasatinya? Kalo bisa ditampilkan artikel mensiasati balita tidak mau makan sayur dan buah?? terima kasih
Ibu selvi yang baik,
Terima kasih telah memberi komentar pada tulisan ini.
Untuk MP-ASI yang terbaik tentu saja yang disiapkan sendiri oleh ibu di rumah. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar MP-ASI yang kita buat berkualitas, misalnya bahan-bahan yang bernilai diolah memiliki nilai gizi tinggi dan memenuhi kaidah gizi seimbang, bahan-bahannya bersih, diupayakan segar, diolah dengan cara yang bersih, dan tak ketinggalan peralatan makan yang digunakan pun harus bersih pula.
Lalu bagaimana dengan iklan di media massa yang menawarkan MP-ASI dengan penambahan DHA, LA, prebiotik, dan sebagainya?
Jangan khawatir Bu, bahan-bahan makanan yang memenuhi kaidah gizi seimbang pasti mencukupi kebutuhan nutrisi buah hati Ibu.
Oya, Ibu Utami Roesli (pakar laktasi) juga mengatakan bahwa baik sekali untuk mempersiapkan MP-ASI dengan menambahkan ASI yang kita perah ke dalam racikan, meskipun bahannya hanya tepung beras (baiknya menggunakan tepung beras yang kita buat sendiri).
Ibu tahu? yang terbaik dari MP-ASI yang dibuat sendiri oleh Ibu di rumah adalah kandungan gizi “cinta” dan “kasih sayang” yang ada di dalamnya.
Selamat mencoba!
Ibu Erika yang baik,
Terima kasih telah memberi komentar pada tulisan ini.
Wah, kita banyak kemiripan ya, Bu?
Saya juga senang memasak. Anak saya juga laki-laki, baru berusia 2 tahun 7 bulan. Tidak jauh berbeda, kan?
Pasti lagi “nakal-nakalnya” ya?
Ibu, masalah yang Ibu hadapi dialami pula oleh banyak ibu-ibu lainnya.
Yuk, kita coba beberapa tips berikut ini:
Pertama, coba untuk menyembunyikan sayur dalam makanan yang disajikan, misalnya dalam omelet telur, pastel telur, nasi tim sayur dan sejenisnya. Dalam makanan-makanan tersebut sayur dapat dipotong-potong kecil dengan harapan tidak terlalu jelas dilihat oleh Si Buah Hati.
Kedua, biasakan dalam menu makanan keluarga tersedia sayur, sesering mungkin terpapar (diberikan) menu makanan bersayur, dan melihat keluarga (ayah, ibu, dan kakak) makan sayur.
Ketiga, coba membuat jus buah dengan ditambahkan sedikit sayuran.
Keempat, coba ajak Si Buyung/Upik makan bersama teman-teman sebayanya (sepupu atau tetangga) yang sudah terbiasa makan sayur.
Ayo Bu, lebih kreatif lagi. Saya yakin Ibu bisa, apalagi Ibu hobbi memasak. Artikel tentang mensiasati anak agar mau makan sayur akan saya coba siapkan pada posting selanjutnya.
Oya, kepada ibu-ibu yang lain, ayo berbagi tips dengan Ibu Erika.
Selamat mencoba!