Manfaat ASI dan Peran Ayah

Jan 12th, 2009 | By | Category: Gaya Hidup

Tak bisa disangkal lagi, betapa Air Susu Ibu (ASI) adalah sumber nutrisi utama pada bayi. Lewat beberapa penelitian tidak hanya di dalam negeri, ilmuwan barat pun mengakui betapa ASI adalah formula paling sempurna, jauh lebih sempurna di banding susu sapi formula.

Setiap wanita secara alamiah dipersiapkan untuk bisa menyusui bayinya, karena memang wanita dianugerahi sepasang atau lebih kalenjar air susu. Pada saat melahirkan kalenjar ini akan memproduksi air susu khusus untuk makanan bayinya.

ASI yang keluar pada saat kelahiran sampai hari keempat atau ke tujuh disebut kolostrum, yang mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu matang. Di masa-masa selanjutnya, seperti yang dituturkan Dr. Oetami Roesli, SpA., MBA., IBCLC., Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI RS. Saint Carolus, Jakarta, kolostrum ini akan menjadi pelindung bayi dari berbagai penyakit seperti diare, infeksi telinga, batuk-pilek, atau berbagai alergi.

Barangkali yang paling perlu diketahui juga adalah bagaimana bayi yang baru lahir bisa mendapatkan ASI. Menurut Oetami, mekanisme kerjanya bermula dari isapan bayi yang akan merangsang ujung saraf di daerah puting susu dan aerola. Selanjutnya rangsangan itu akan membentuk sinyal yang dikirim ke bagian depan kalenjar hipofisis di otak untuk megeluarkan hormon prolaktin. Hormon prolaktin inilah yang akan merangsang sel-sel di pabrik ASI untuk membuat ASI. Rangsangan dibentuknya prolaktin ini sendiri, tutur Oetami adalah dengan mengosongkan gudang ASI. “Itu sebabnya, ibu yang menyusui dianjurkan untuk tidak membatasi bayinya menyusui. Pasalnya, semakin sering menyusui, semakin banyak ASI yang akan diproduksi. Beda dengan susu sapi yang makin banyak diminum, makin kosong kantong kita,” ujar Oetami.
 
ASI Ekslusif

“Beri bayi Ibu ASI ekslusif,” demikian Oetami Roesli menganjurkan. Pasalnya, dari banyak penelitian para ahli gizi, terbukti bahwa bayi yang diberi ASI ekslusif (dalam arti tanpa tambahan makanan lainnya seperti pisang atau nasi lembik bahkan air) tumbuh lebih cerdas serta tidak gampang sakit. Bila sudah demikian, maka pertumbuhan anak yang optimal akan lebih mudah tercapai.

Selain itu, ASI ekslusif yang diberikan hingga 4-6 bulan adalah suatu upaya penting yang bisa dilakukan ibu di awal-awal perkembangan bayi baik secara fisik maupun mental. Secara nutrisi, sudah pasti bayi akan lebih sehat dengan mendapat ASI ekslusif, namun yang tak kalah penting, menurut Oetami adalah semakin terjaganya perkembangan mental si bayi, yang akan dibawanya sampai ia dewasa kelak.               

Mengapa demikian? Mudah saja. Pada saat menyusui setiap saat itu, ibu dan bayi akan senantiasa berhubungan baik lahir maupun batin. Detak jantung dan lembutnya nafas ibu, sebagaimana yang dirasakan bayi saat masih dalam rahim ibu, ternyata masih tetap ada. Tentunya hal itu akan sangat menentramkan perasaan bayi. “Dari sini, secara emosional, menyusui secara ekslusif akan sangat menguntungkan baik untuk ibu terlebih untuk bayinya,” tandas Oetami.

Demikian halnya dengan keuntungan secara nutrisi, ASI yang diberikan secara optimal akan menjamin tercapainya pertumbuhan otak dan kecerdasan anak secara maksimal. Hal ini karena ASI mengandung nutrien-nutrien khusus, yang tidak terdapat atau hanya sedikit terdapat pada susu sapi. Nutrien tersebut yakni taurin, yaitu suatu bentuk zat putih telur yang hanya terdapat dalam ASI. Kemudian laktosa, yang merupakan hidrat arang utama dari ASI. Selain itu ada juga asam lemak ikatan panjang, yakni DHA, AA, Omega-3, dan Omega-6 yang merupakan asam lemak utama dalam ASI yang juga sangat sedikit terdapat dalam susu sapi.

Yang lebih menarik mengenai ASI ini adalah sebuah hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 1993 terhadap 300 bayi prematur. Kesemua bayi prematur ini diberikan ASI ekslusif oleh ibunya hingga cukup. Ternyata di kemudian hari IQ mereka lebih tinggi 8,3 poin dibandingkan dengan  bayi prematur yang tidak diberikan ASI. Demikian juga dengan bayi cukup bulan yang diberikan ASI akan lebih tinggi IQ-nya hingga 12,9 poin ketimbang bayi cukup bulan yang tidak diberi ASI.
 
Peran Ayah

Peran ayah atau suami dalam proses menyusui bayi tentu saja sangat besar. Hal ini berkaitan dengan reflek yang dinamakan refleks oksitosin dalam diri ibu, berupa pikiran, perasaan dan sensasi. “Perasaan ibu akan sangat meningkatkan, namun juga seringkali dapat menghambat proses pelepasan ASI,” tutur Oetami.

Seorang ibu yang punya pikiran positif tentu saja akan senang melihat bayinya, kemudian memikirkannya dengan penuh kasih sayang. terlebih bila sudah mencium dan menimang si buah hati, tentu saja akan menimbulkan perasaan tak terkira. Semua itu terjadi bila ibu dalam keadaan tenang.

Sebaliknya, bila seorang ibu dalam perasaan khawatir, seperti khawatir ASI-nya tidak keluar, atau pikirannya kacau, sedih, cemas dan bingung, tentu saja akan sangat mengganggu proses menyusui. Apalagi bila si ibu merasa kesakitan saat menyusui, terlebih lagi bila ada perasaan malu kalau menyusui, tentu saja si bayi yang akan jadi korbannya.

Itulah sebabnya, menurut Oetami Roesli, seorang ayah punya peran penting dalam keberhasilan ibu menyusui, terutama kaitannya dengan berbagai hal yang berkaitan dengan refleks oksitosin ini. “Perasaan dan semangat ibu untuk terus memberikan yang terbaik pada anak-anaknya, sangat tergantung pada peran suami atau ayah untuk terus menjaga suasana kondusif,” tegas Oetami. []

Sumber:
http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/pria/artikel06-6I.html

Tags: , , , , , ,

Leave Comment