LAPAS dan Penanggulangan HIV/AIDS
Dec 13th, 2008 | By admin2 | Category: FiturWarga binaan (WB) di LAPAS adalah kelompok masyarakat yang berada pada posisi yang lemah karena tidak mampu untuk menentukan nasibnya sendiri. Pada saat yang bersamaan karena kondisi hidup dan kualitas tempat tinggalnya, mereka sangat rentan terhadap penularan jenis penyakit seperti penyakit paru-paru (TBC, infeksi saluran pernafasan), penyakit kulit dan penyakit HIV-AIDS serta hepatitis. Secara umum diketahui bahwa prevalensi HIV ditemukan 5 kali lebih banyak di lapas daripada di masyarakat umum. Khususnya di LAPAS narkotika, survey yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kotamadya Bandung menunjukkan bahwa prevalensi HIV ditemukan sebesar ~ 12% dari warga binaan yang di test dan lebih tinggi pada pengguna narkoba suntik.
Di sisi lain, LAPAS dapat dilihat sebagai tempat dimana orang-orang dengan perilaku yang beresiko tinggi berada. Mereka ditangkap karena telah melakukan suatu pelanggaran susila, penggunaan obat terlarang atau perilaku lainnya yang berbahaya. Dalam kondisi di lingkungan normal di masyarakat , sebenarnya orang-orang ini sangat sulit untuk di temui karena perilaku ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Di sini dapat dilihat bahwa keberadaan mereka di LAPAS adalah suatu kesempatan yang sangat baik untuk bisa mendeteksi penyakit atau mengatasi gangguan perilakunya. Kita dapat lihat bahwa walaupun mereka di LAPAS, suatu saat mereka akan kembali ke masyarakat dan bahaya dapat timbul bila penyakit yang diidapnya tidak diketahui dan ditularkan pada kerularga dan lingkungan sekitarnya.
Dilihat dari dua sisi ini, maka LAPAS adalah tempat dimana kelompok masyarakat yang rentan ini lebih mudah untuk di kelola dengan baik dan akan memberikan dampak yang baik bagi masyarakata dimana ia akan kembali.
Kenapa pengelolaan kesehatan di LAPAS penting?
WB di LAPAS Banceuy kebanyakan adalah kiriman dari LAPAS-LAPAS lain di Jawa Barat dan Jakarta. Mereka adalah orang yang mempunyai perilaku beresiko dan diantaranya sudah terinfeksi HIV. Rendahnya tingkat pengetahuan mengenai ketersediaan obat anti HIV dan adanya stigma, membuat para WB ini enggan untuk melaporkan kondisi kesehatannnya secara aktif. Dalam pengamatan kami bahkan beberapa WB baru diketahui menderita sakit setelah kondisi menjadi sangat parah sehingga sulit diselamatkan. Hal ini menjadikan angka kematian di lapas tinggi, dan penyakit HIV-AIDS merupakan penyebab tersering penderita meninggal di LAPAS. Selama WB tersebut sakit (misalnya TBC), bila tidak dideteksi segera ia juga sebenarnya merupakan ancaman bagi teman-temannya karena mungkin menularkan penyakit tersebut.
Beberapa informasi menunjukkan bahwa pengguna narkoba adalah orang yang sadar bahwa kesehatannya terancam disaat menggunakan obat, menyuntik, memperoleh tato, merokok, alkohol. Ia menyadari bahayanya untuk kesehatan, namun pada saat yang bersamaan ia sangat membutuhkannya. Terlebih lagi dengan kondisi padatnya LAPAS dan sanitasi yang buruk, ia menyadari bahwa penyakit tertentu lebih mudah diperoleh didalam LAPAS.
Melihat pada dua kondisi di atas, dilaksanakannya pelayanan kesehatan yang baik memberikan keuntungan bagi banyak pihak. Para WB akan lebih merasa nyaman karena walau ia ditahan, paling sedikit kesehatannya diperhatikan. Bila ia datang ke klinik maka penyakitnya akan dapat dideteksi dan diobati dengan lebih cepat. Pada akhirnya pencegahan penularan pada WB lain, staf maupun keluarga WB saat ia kembali ke lingkungan nanti akan terlaksana dengan efektif. Umpan balik positif akan kembali di peroleh karena bila kerjasama antara WB dan klknik kesehatan dapat berjalan dengan baik, para WB akan percaya pada LAPAS, dan akan bersedia untuk patuh pada standar medis (seperti testing HIV) yang dianjurkan padanya.
Apa yang sudah dilakukan di LAPAS Banceuy?
Sejak pertengahan tahun 2007, LAPAS Banceuy mulai berusaha untuk mengelola kesehatan WB dengan sebaik mungkin. Semua WB baru yang datang di LAPAS Banceuy menjalani skrining kesehatan yang lengkap dan dianjurkan untuk test HIV. Pengumpulan data mengenai riwayat penggunaan narkoba dan perilaku beresiko lainnya juga dilakukan pada saat skrining kesehatan. WB lama yang mengidap penyakit tertentu seperti TBC atau penyakit yang berhubungan dengan HIV-AIDS juga di anjurkan untuk melaksanakan test.
Semua penyakit infeksi dikelola dengan baik. Khusus untuk penyakit TBC dan HIV, penderita akan mendapatkan obat secara cuma-cuma melalui program pemerintah bekerjasama dengan Puskesmas Kopo dan Klinik Teratai RS dr Hasan Sadikin. Pemberian obat ARV tidaklah mudah karena sering menngakibatkan efek sampingan. Obat ini akan diberikan untuk seumur hidup. Untuk menjamin kepatuhan dan kualitas penanganannya, penderita dikelola oleh Tim Medis dan Bimpas yang terlatih. Kelompok dukungan sebaya sesama penderita HIV, dilaksanakan secara rutin untuk saling memberikan dukungan secara moril.
Dengan upaya ini penderita HIV di LAPAS Banceuy lebih cepat di ketahui dapat dikelola sedini mungkin. Hal ini tampak dengan peningkatan jumlah HIV yang tercata sebanyak 14 orang pada tahun 2006, 25 orang tahun 2007 dan 40 orang pada tahun 2008. Pengelolaan yang baik berhasil menurunkan angka kematian khusus HIV secara bermakna dari 43% dari tahun 2006, 16% tahun 2007 dan 10% pada tahun 2008.
Di waktu yang akan datang diharapkan kinerja yang baik ini bisa di teruskan dalam pengelolaan warga binaan paska tahanan. Pengelolaan penyakit mereka di luar, pencegahan penularan di lingkungan dan keluarga mereka akan menjadi perhatian dalam program diwaktu yang akan datang.
Pertemuan hari AIDS sedunia dalam bentuk serupa ini di LAPAS baru pertama kali dilaksanakan. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk :
- Menginformasikan ke masyarakat tentang permasalahan dan penanganan HIV-AIDS di LAPAS
- Mengharapkan perhatian dari pemerintah terutama pemda untuk melakukan penanganan dan pengobatan bagi ODHA pada umumnya di Jawa Barat dan Khususnya di LAPAS
- Banceuy ingin menjadi percontohan dalam pelayanan kesehatan, khususnya untuk pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di LAPAS/RUTAN. []
