Kilasan Sejarah Pengobatan dengan Puasa
Sep 8th, 2008 | By admin2 | Category: Fitur, Kesehatan IslamiPuasa, semenjak zaman dulu, dijadikan salah satu sarana penting dalam mengobati penyakit atau mempercepat kesembuhan penyakit. Para dokter di setiap putaran waktu dan zaman selalu berpesan kepada pasiennya agar mereka melakukan puasa. Para umat dan bangsa terdahulu dengan berbagai agama dan latar belakang budaya yang berbeda-beda, dari semenjak munculnya fajar sejarah, selalu menggunakan puasa sebagai terapi pengobatan.
Ini bisa dilihat dari fakta orang-orang Mesir Kuno yang selalu menjalankan ritual puasa. Fakta ini terlihat pada relief-relief yang terukir pada kuil-kuil dan kuburan-kuburan mereka dan pada papyrus yang mereka tinggalkan. Tradisi berpuasa ini juga dilakukan oleh orang-orang China, India, Romawi, dan Yunani.
Pada abad ke-6 SM, Seorang tabib Chian kenamaan, Chi Joo She, yang hidup di Tibet telah membahas secara rinci dan sempurna tentang terapi pengobatan dengan puasa dan terapi pengobatan dengan makanan, di dalam bukunya yang membahas tentang kedokteran.
Di daerah Mesir Kuno, dengan disaksikan para sejarawan terkenal yang sempat mengunjunginya, disimpulkan bahwa orang-orang Mesir Kuno telah melakukan puasa sebanyak 3 hari setiap bulannya. Mereka mampu mengobati penyakit yang cukup beragam dengan puasa. Hal ini yang menjadikan mereka sebagai bangsa yang paling banyak menikmati anugerah kesehatan pada zaman itu, sekaligus mengukuhkan kemajuan mereka dalam dunia kedokteran.
Para dokter dari kalangan bangsa Yunani, seperti Aksapiyad, Cilus, dan Apocrates merujuk kepada pengobatan puasa saat mereka mengobati penyakit yang sulit, apdahal sarana-sarana pengobatan lainyang mereka miliki pada saat itu sudah begitu lengkap.
Seorang filsuf besar, Apikor, menjalani puasa selama 40 hari untuk menajamkan kekuatan akal dan energi daya ingatnya sesaat sebeluj ia menjalani ujian besar dalam bidang keilmuan di Universitas Iskandariyah.
Socrates menggambarkan fungsi puasa bagi orang-orang yang penyakitnya telah mencapai tingkat paling sulit disembuhkan. Ia mengomentari tentang puasa, “Di dalam batin setiap kita ada dokternya. Tidaklah wajib bagi kita, kecuali membantu dokter tersebut dalam menunaikan pekerjaannya.”
Seorang filsuf Romawi yang hiduo pada abad ke-2 M, Galinecus, mewasiatkan manusia agar berpuasa sebagai obat yang efektif pada saat mengalami kesedihan, ketegangan, dan ketakutan.
Para dokter dari kalangan kaum muslimin juga memberikan nasihat agar manusia berpuasa. Mereka, di sepanjang zaman dan waktu, telah menggunakan puasa sebagai salah satu cara yang paling efektif dan yang paling berhasil dalam mengobati beragam jenis penyakit, terlebih penyakit gangguan sistem pencernaan. Resep pertama yang mereka berikan kepada pasien adalah puasa secara Islam atau puasa secara medis saja. Puasa secara medis itu misalnya ia melakukan puasa pada masa-masa tertentu dengan cara tidak mengkonsumsi berbagai jenis makanan dan minuman tertentu. Cara ini masih diikuti oleh para dokter secara umum sampai hari ini.
Di kalanagn dokter kaum muslimin, orang yang paling kerap menggunakan puasa sebagai terapi pengobatan adalah asy-Syaikh ar-Ra’is Ibnu Sina. Ia mampu mengobati berbagai jenis penyakit dengan puasa ini secara merata kepada orang kaya dan orang miskin.
Pada awal abad ke-15 M, salah seorang dokter dari benua Eropa, Lofefo Corina, mempergunakan puasa sebagai terapi dalam menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Ia mempraktikkan eksperimen itu kepada dirinya sendiri. Ia pun sembuh setelah ia mengalami penyakit yang sangat kronis dalam usia yang mendekati 100 tahun. Pada hari-hari terakhir hidupnya, ia menulis sebuah buku yang mengetengahkan pentingnya puasa dalam mengobati berbagai jenis penyakit. Buku itu berjudul Orang yang Makannya Sedikit, Usianya akan Panjang.
Pengobatan dengan Puasa pada Era Modern
Seiring dengan dimulainya era kebangkitan (renaisance), para dokter di berbagai penjuru dunia gencar menyerukan agar manusia mengikuti cara baru dalam mengobati berbagai macam penyakit, yaitu dengan menggunakan puasa. Seruan ini menyebar ke seluruh Eropa dan terekam dalam berbagai tulisan yang dirilis oleh seorang dokter berkebangsaan Swiss yang bernama Parcillus. Ia berkata, “Puasa memiliki faidah pengobatan yang lebih unggul beberapa tingkat daripada pengobatan dan sarana-sarana terapi yang pernah digunakan.”
Dr. Benyamin, seorang guru besar di Universitas Moskwamenyebutkan, “Jika kita memeliti watak (tabi’at) manusia yang berkaitan dengan makanan, niscaya kita akan menemukan jiwanya tidak berkenan menerima makanan pada waktu-waktu tertentu. Seolah sikap jiwa itu menyuruhnya untuk melakukan satu jenis puasa yang ditentukan waktunya, jiwanya membutuhkan puasa yang dapat menjaga keseimbangan batin dan memelihara jiwa dari pengaruh-pengaruh luar.”
Pada tahun 1911, seorang dokter di Prancis, Dr. Helpa, menggunakan puasa dalam waktu yang terputus-putus dalam jangka waktu sembilan hari, sebagai langkah andalan mengobati penyakit para pasiennya. Ia menyediakan makanan-makanan ringan kepada pasien setelah mereka menjalani masa-masa puasa. Cara seperti ini ternyata mengalami kesuksesan besar baginya.
PAda tahun 1928, pada sebuah konferensi yang diselenggarakan di Kota Amsterdam, Ibu Kota Belanda, Dr. Detterman menyampaikan sebuah pidato ilmiah yang menjelaskan tentang pentingnya penggunaan puasa dalam mengobati berbagai penyakit. Ia memberikan saran kepada para peserta konferensi agar menggunakan terapi puasa dalam praktik-praktik pengobatan.
Para peserta pun mengakuai faidah puasa dan efektifitasnya dalam mengobati penyakit-penyakit yang diakibatkan berlebihan dalam hal makanan, serta penyakit-penyakit yang dapat diobati kelebihan berat badan, penyakit gangguan sistem pencernaan, mengobati hal-hal yang dapat mengakibatkan terganggunya pembuluh darah, tekanan darah tinggi (hipertensi), ketegangan otot (keram), ketegangan jaringan-jaringan tubuh, dan penyakit-penyakit lainnya.
PAda tahun 1914, sebuah buku terbit dengan judul Terapi Pengobatan dengen Puasa sebagai Cara Biologis. Penulis buku tersebut menjelaskan tentang tata cara berpuasa untuk mengobati berbagai macam penyakit yang membahayakan. Di dalam buku itu, ia menjelaskan bahwa puasa bisa merubah anatomi tubuh. Puasa bekerja mengusir racun dan materi-materi membahayakan yang keluar dari tubuh.
Para dokter dari negara lain, seperti seorang dokter dari Amerika yang bernama Henry TAner, yang menulis buku Puasa Sebuah Eliksir Kehidupan, dan rekannya yang bernama Aptoon Sinclair — yang sangat keras mempertahankan penggunaan puasa dalam terapi pengobatan, menjadikan puasa sebagai terapi pengobatan.
Selain mereka, ada beberapa nama besar dalam dunia kedokteran dari berbagai penjuru dunia yang mempergunakan puasa sebagai terapi pengobatan. Dari Prancis, kita sebut saja Sofneirdan Laf Vivin. Dari Rusia; Yori Nicolaif, dari Jerman; Posinger, dari Amerika; Allan Cowt, dari Inggris; Shalton, dan dari Kanada; Bernard Jhonson — di mana ia telah membimbing cara pengobatan lebih dari 50.000 kasus penyakit dengan menggunakan terapi puasa di Medical Center miliknya yang terletak di sebuah kota di Kanada.
Bahkan mayoritas ilmuwan kesehatan dari negara Barat pada kurun waktu terakhir ini begitu cerdas dalam memahami betapa pentingnya puasa dalam mengobati pasien. Mayoritas mereka menggunakan puasa sebagai terapi pengobatan. Hal ini tidaklah terasa aneh, apalagi jika Anda melihat paa beberapa rumah sakit di negeri Barat terpampang di berbagai papan pengumuman beberapa teks yang bersumber dari hadist Rasulullah, “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” (H.R. Ahmad), atau ungkapan terkenal, “Perut adalah rumahnya penyakit”, atau ayat-ayat al-Quran yang agung, “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan.” (Q.S.Al-A’raf: 31)
Mungkin saja penggunaan puasa dalam pengobatan merupakan cerminan dari firman Allah tersebut. PAda ayat ini, Allah memerintahkan supaya kita sederhana dalam makan dan minum serta tidak berlebih-lebihan pada keduanya. Karena hal itu sangat membahayakan bagi individu dan masyarakat. []
Sumber: Dahsyatnya Terapi Puasa
Penerjemah: H. Ubaidillah Saiful Akhyar, Lc.
Nakhlah Pustaka, Jakarta
2007
