Kampanye PHBS dan Penyakit Musim Hujan

Jan 27th, 2010 | By admin2 | Category: Artikel Utama

Musim hujan datang lagi. Serangan dan ancaman berbagai penyakit, seperti diare, influenza, leptospirosis, dan demam berdarah dengue (DBD) muncul di tengah masyarakat. Tidak ketinggalan demam chikungunya yang mirip dengan DBD terkadang ikut “meramaikan” musim hujan. Sesungguhnya, ini merupakan ironi saat kita sedang gencar-gencarnya memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat. Lantas, kenapa hal tersebut bisa terjadi?

Ketidakpedulian semua pihak membuat berbagai penyakit tersebut terus menjadi hantu setiap memasuki musim hujan. Sekadar contoh, kasus DBD di Kota Cimahi terus menunjukkan peningkatan. Dari Januari hingga Juli 2009, tercatat 1.395 kasus dengan korban 7 orang meninggal dunia. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Cimahi, jumlah kasus DBD hingga pertengahan tahun 2009 ini jauh melebihi jumlah kasus pada tahun sebelumnya. Pada 2008, muncul 1.250 kasus DBD dengan 6 kematian. Dikhawatirkan, jumlah kasus DBD tahun ini akan menyamai 2007, saat DBD ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) dengan jumlah 2.373 kasus dan 18 kematian (”PR”, 8/8).

Kurangnya perhatian pemerintah daerah/Dinas Kesehatan dalam menata lingkungan dan komunikasi kesehatan masyarakat menjadi faktor utama tingginya serangan dan ancaman berbagai penyakit yang kerap muncul pada musim hujan. Anehnya, sektor ini belum dianggap strategis dalam merencanakan pembangunan bidang kesehatan.

Sudah saatnya pemerintah daerah/Dinas Kesehatan berpikir ulang dalam pengarusutamaan program kesehatan. Strategi kampanye komunikasi kesehatan semestinya ditempatkan pada jajaran paling atas program kesehatan masyarakat. Dengan demikian, upaya preventif di bidang kesehatan harus tetap dikedepankan guna mencegah penyakit-penyakit yang kerap muncul pada musim hujan.

Berdasarkan pengamatan, selama ini program kesehatan cenderung lebih menekankan pada pengobatan (gratis) penderita penyakit daripada program di bidang kesehatan untuk mencegah agar masyarakat tidak terkena penyakit musim hujan. Padahal, menurut Kartono Mohamad (2009), keberhasilan pemerintah dalam bidang kesehatan bukan pada berapa banyak rumah sakit dan balai pengobatan yang didirikan dan berapa besar ia membiayai pengobatan bagi yang miskin, melainkan seberapa jauh penyakit dapat dicegah, seberapa besar kematian yang tidak seharusnya bisa dihindarkan, seberapa jauh kecacatan akibat penyakit dapat dikurangi, seberapa jauh rakyat didorong untuk berperilaku sehat, dan seberapa jauh pemerintah dapat mengantisipasi datangnya wabah baru.

Di sinilah kewajiban pemerintah daerah/Dinas Kesehatan untuk melakukan penyadaran dan menfasilitasi agar setiap anggota masyarakat dapat memenuhi bagian kewajibannya menjaga diri supaya tidak sakit.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah berbagai penyakit yang kerap muncul pada musim hujan adalah melalui kampanye pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Gagasan untuk melakukan kampanye komunikasi PHBS pernah dilontarkan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Gubernur Jabar meminta agar masyarakat membiasakan diri dengan PHBS. Menurut dia, PHBS harus terus dikampanyekan (”PR”, 3/3).

Masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang kebersihan lingkungan menjadi kendala tersendiri dalam upaya mencegah penyakit-penyakit musim hujan. Langkah intensif yang mungkin dapat dilakukan adalah melakukan kampanye komunikasi kesehatan agar bisa mengomunikasikan perilaku bersih dan sehat melalui penanaman PHBS sedini mungkin.

Menurut Venus (2004), teori perilaku terencana (theory of planned behaviour) dalam kampanye komunikasi persuasif dapat digunakan dalam kampanye komunikasi PHBS. Teori ini menjelaskan bahwa faktor utama yang menentukan terbentuknya suatu perilaku adalah tujuan perilaku itu sendiri. Suatu perilaku tidak terbentuk begitu saja tanpa adanya perencanaan atau kesadaran seseorang akan tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tersebut. Kesadaran akan tujuan tertentu akan membawa individu untuk membuat rencana membentuk satu perilaku dalam suatu situasi tertentu.

Pada dasarnya, tujuan suatu perilaku ditentukan sejumlah faktor. (1) Sikap terhadap perilaku. Ini menyangkut kepercayaan individu terhadap konsekuensi positif dan negatif dari suatu perilaku, serta pertimbangan-pertimbangan penting yang ada pada tiap-tiap konsekuensi tersebut. Perilaku akan terlaksana jika individu merasa konsekuensi positifnya lebih besar daripada konsekuensi negatif. (2) Norma subjektif yang berhubungan dengan perilaku. Ini menyangkut kepercayaan individu berkenaan dengan pemikiran orang-orang yang mempunyai arti penting bagi dirinya terhadap perilaku tersebut. (3) Persepsi terhadap pengawasan perilaku. Ini adalah persepsi individu mengenai kekuatan faktor eksternal yang akan sangat memengaruhi tingkat kemudahan atau kesulitan munculnya perilaku tersebut.

Berdasarkan teori perilaku terencana, kampanye komunikasi PHBS tersebut harus dapat membangun motivasi individu/masyarakat dalam melakukan berbagai tindakan yang dianjurkan di dalamnya. Pesan harus dapat menyadarkan individu/masyarakat bahwa segala hal baru yang harus dilakukannya tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan untuk menghindari bahaya/ancaman yang mungkin saja dapat mematikan, yaitu penyakit-penyakit musim hujan.

Oleh karena itu, pesan sebaiknya menonjolkan sebanyak mungkin keuntungan dan meminimalkan sisi negatifnya. Pesan juga akan lebih optimal jika dapat menggunakan opinion leader yang dipercaya individu sebagai pembawa pesan. Misalnya, individu akan lebih terpengaruh untuk berubah bila yang mengatakan pesan tersebut adalah dokter atau tenaga profesional di bidang kesehatan.

Ketiga faktor tersebut akan sangat membantu dalam merancang kampanye komunikasi PHBS. Teori ini pun dapat membantu mengubah sikap dan perilaku setiap anggota masyarakat untuk menjaga kesehatan diri. Pada akhirnya, diharapkan akan muncul kesadaran pada setiap warga negara bahwa berperilaku hidup bersih dan sehat adalah kewajiban. Mereka wajib ikut menjaga agar keluarga, tetangga, dan lingkungan hidup mereka agar tetap dalam keadaan sehat. (Uud Wahyudin, dosen Mankom Fikom Unpad dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Pascasarjana Unpad Bandung)***

Sumber:

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=109410

Tags: , , , , , ,

Leave Comment