<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Eureka Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.eurekaindonesia.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.eurekaindonesia.org</link>
	<description>Untuk Indonesia yang Sehat dan Lebih Baik</description>
	<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 23:31:00 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tuntas, Pelatihan Kader dan Inisiasi ECD</title>
		<link>http://www.eurekaindonesia.org/tuntas-pelatihan-kader-dan-inisiasi-ecd/</link>
		<comments>http://www.eurekaindonesia.org/tuntas-pelatihan-kader-dan-inisiasi-ecd/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 23:25:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[bulan vitamin A]]></category>

		<category><![CDATA[ECD]]></category>

		<category><![CDATA[PAUD]]></category>

		<category><![CDATA[Penguatan Posyandu]]></category>

		<category><![CDATA[Tugas Pokok Kader Posyandu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eurekaindonesia.org/?p=1710</guid>
		<description><![CDATA[Rangkaian kegiatan Penguatan Posyandu di RW 02 Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat sudah berjalan separuh waktu. Hingga Sabtu (20/02), kegiatan ini telah merampungkan sub kegiatan sosialisasi kegiatan, pelatihan tugas pokok kader Posyandu, dan inisiasi Early Child Development (ECD).
Jumlah kader yang minim masih menjadi masalah utama pengelolaan Posyandu. Sebelum kegiatan, hanya terdapat dua orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rangkaian kegiatan Penguatan Posyandu di RW 02 Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat sudah berjalan separuh waktu. Hingga Sabtu (20/02), kegiatan ini telah merampungkan sub kegiatan sosialisasi kegiatan, pelatihan tugas pokok kader Posyandu, dan inisiasi <em>Early Child Development</em> (ECD).<span id="more-1710"></span></p>
<p>Jumlah kader yang minim masih menjadi masalah utama pengelolaan Posyandu. Sebelum kegiatan, hanya terdapat dua orang kader posyandu yang bertugas. Di akhir sub kegiatan pelatihan tugas pokok Posyandu, terdapat delapan orang peserta. &#8220;Untuk kondisi di daerah seperti ini, mendapatkan enam orang calon kader baru Posyandu sudah merupakan hal yang menggembirakan,&#8221; ungkap Susilowati, S.KM., M.KM., fasilitator pelatihan.</p>
<p>Sub kegiatan inisiasi <em>Early Child Development</em> (ECD) pun mendapat apresiasi yang baik dari warga, khususnya ibu dan balita. &#8220;5 Pelayanan dasar Posyandu memang belum dapat dijalankan sepenuhnya, apalagi kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini,&#8221; jelas Ibu Dede, Ketua Kader Posyandu setempat. Di pertemuan terakhir, peserta berharap kegiatan tersebut terus dilanjutkan secara mandiri oleh kader Posyandu. &#8220;Saya dan teman-teman di Stikes A. Yani Cimahi akan merancang kegiatan follow-up untuk ECD ini, misalnya kegiatan rutin dua pekanan,&#8221; demikian disampaikan oleh Lilis Rohayani, S.Kep., Ners., salah satu fasilitator kegiatan.</p>
<p>Kegiatan Penguatan Posyandu masih menyisakan sub kegiatan Penyelidikan Positive Deviance dan pendampingan Hari Buka Posyandu. &#8220;Hari kamis nanti adalah jadwal buka Posyandu, sekalian pemberian vitamin A. Jadi akan kita lihat seperti apa Posyandu ini berfungsi ketika biasanya hampir semua ibu dan balita hadir di bulan pemberian Vitamin A,&#8221; harap Kuspriyanto, S.Si., Apt., Ketua Yayasan Eureka Indonesia yang turut memonitor jalannya kegiatan. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eurekaindonesia.org/tuntas-pelatihan-kader-dan-inisiasi-ecd/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hujan Picu Sakit Kepala</title>
		<link>http://www.eurekaindonesia.org/hujan-picu-sakit-kepala/</link>
		<comments>http://www.eurekaindonesia.org/hujan-picu-sakit-kepala/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 09:52:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Fitur]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<category><![CDATA[hujan]]></category>

		<category><![CDATA[kelembaban tinggi]]></category>

		<category><![CDATA[missouri]]></category>

		<category><![CDATA[sakit kepala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eurekaindonesia.org/?p=1703</guid>
		<description><![CDATA[Tekanan udara yang rendah seperti hujan, mendung dan kelembaban tinggi terbukti menjadi pemicu sakit kepala pada anak-anak. Menurunnya tekanan udara telah ikut menurunkan kekebalan tubuh meski belum diketahui persis penyebabnya.
Dalam studi ini peneliti melibatkan 25 anak-anak dan remaja yang memiliki riwayat penyakit migrain dan sakit kepala kronis. Peneliti menemukan, anak-anak cederung lebih sering sakit kepala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tekanan udara yang rendah seperti hujan, mendung dan kelembaban tinggi terbukti menjadi pemicu sakit kepala pada anak-anak. Menurunnya tekanan udara telah ikut menurunkan kekebalan tubuh meski belum diketahui persis penyebabnya.<span id="more-1703"></span></p>
<p>Dalam studi ini peneliti melibatkan 25 anak-anak dan remaja yang memiliki riwayat penyakit migrain dan sakit kepala kronis. Peneliti menemukan, anak-anak cederung lebih sering sakit kepala saat cuaca hujan atau kelembabannya lebih tinggi dari biasanya.</p>
<p>Partisipan yang ikut dalam studi ini hampir 3 kali lebih memungkinkan menderita sakit kepala ketika cuaca hujan atau kelembaban tinggi dibandingkan saat kondisi udaranya kering.</p>
<p>Pada studi tersebut, peneliti memberikan anak-anak komputer genggam yang dapat merekam gejala sakit kepala selama dua minggu. Setelahnya peneliti membandingkan informasi tersebut dengan kondisi cuaca yang ada saat itu.</p>
<p>Studi yang dipimpin oleh Dr Mark Connely dari Children&#8217;s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City, Missouri ini melengkapi penelitian sebelumnya yang menggunakan metode kurang tepat. Hasil penelitian ini dilaporkan dalam jurnal Headache.</p>
<p>Hasil penelitian secara keseluruhan didapat selama periode hujan anak-anak memiliki kemungkinan menderita gejala sakit kepala sebesar 59 persen dibandingkan dengan cuaca kering yang hanya sebesar 21 persen.</p>
<p>Sedangkan pada kondisi kelembaban tinggi di atas rata-rata kemungkinan sakit kepala sebesar 58 persen dibandingkan saat kelembaban normal yang hanya 22 persen.</p>
<p>&#8220;Hasil ini memberikan pegangan bagi anak-anak agar dapat mencegah serangan sakit kepala saat musim hujan. Tapi kami belum mengetahui dengan pasti mengapa hujan dan kelembaban yang tinggi dapat memicu sakit kepala pada anak-anak,&#8221; ujar Dr Connelly, seperti dikutip dari Reuters, Senin (25/1/2010). []</p>
<p>Sumber: http://health.detik.com/read/2010/01/25/123532/1285428/763/hujan-picu-sakit-kepala</p>
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eurekaindonesia.org/hujan-picu-sakit-kepala/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kampanye PHBS dan Penyakit Musim Hujan</title>
		<link>http://www.eurekaindonesia.org/kampanye-phbs-dan-penyakit-musim-hujan/</link>
		<comments>http://www.eurekaindonesia.org/kampanye-phbs-dan-penyakit-musim-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 09:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Utama]]></category>

		<category><![CDATA[DBD]]></category>

		<category><![CDATA[demam berdarah]]></category>

		<category><![CDATA[diare]]></category>

		<category><![CDATA[influenza]]></category>

		<category><![CDATA[leptospirosis]]></category>

		<category><![CDATA[musim hujan]]></category>

		<category><![CDATA[PHBS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eurekaindonesia.org/?p=1700</guid>
		<description><![CDATA[Musim hujan datang lagi. Serangan dan ancaman berbagai penyakit, seperti diare, influenza, leptospirosis, dan demam berdarah dengue (DBD) muncul di tengah masyarakat. Tidak ketinggalan demam chikungunya yang mirip dengan DBD terkadang ikut &#8220;meramaikan&#8221; musim hujan. Sesungguhnya, ini merupakan ironi saat kita sedang gencar-gencarnya memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat. Lantas, kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Ketidakpedulian semua pihak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Musim hujan datang lagi. Serangan dan ancaman berbagai penyakit, seperti diare, influenza, leptospirosis, dan demam berdarah dengue (DBD) muncul di tengah masyarakat. Tidak ketinggalan demam chikungunya yang mirip dengan DBD terkadang ikut &#8220;meramaikan&#8221; musim hujan. Sesungguhnya, ini merupakan ironi saat kita sedang gencar-gencarnya memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat. Lantas, kenapa hal tersebut bisa terjadi?<span id="more-1700"></span></p>
<p>Ketidakpedulian semua pihak membuat berbagai penyakit tersebut terus menjadi hantu setiap memasuki musim hujan. Sekadar contoh, kasus DBD di Kota Cimahi terus menunjukkan peningkatan. Dari Januari hingga Juli 2009, tercatat 1.395 kasus dengan korban 7 orang meninggal dunia. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Cimahi, jumlah kasus DBD hingga pertengahan tahun 2009 ini jauh melebihi jumlah kasus pada tahun sebelumnya. Pada 2008, muncul 1.250 kasus DBD dengan 6 kematian. Dikhawatirkan, jumlah kasus DBD tahun ini akan menyamai 2007, saat DBD ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) dengan jumlah 2.373 kasus dan 18 kematian (&#8221;PR&#8221;, 8/8).</p>
<p>Kurangnya perhatian pemerintah daerah/Dinas Kesehatan dalam menata lingkungan dan komunikasi kesehatan masyarakat menjadi faktor utama tingginya serangan dan ancaman berbagai penyakit yang kerap muncul pada musim hujan. Anehnya, sektor ini belum dianggap strategis dalam merencanakan pembangunan bidang kesehatan.</p>
<p>Sudah saatnya pemerintah daerah/Dinas Kesehatan berpikir ulang dalam pengarusutamaan program kesehatan. Strategi kampanye komunikasi kesehatan semestinya ditempatkan pada jajaran paling atas program kesehatan masyarakat. Dengan demikian, upaya preventif di bidang kesehatan harus tetap dikedepankan guna mencegah penyakit-penyakit yang kerap muncul pada musim hujan.</p>
<p>Berdasarkan pengamatan, selama ini program kesehatan cenderung lebih menekankan pada pengobatan (gratis) penderita penyakit daripada program di bidang kesehatan untuk mencegah agar masyarakat tidak terkena penyakit musim hujan. Padahal, menurut Kartono Mohamad (2009), keberhasilan pemerintah dalam bidang kesehatan bukan pada berapa banyak rumah sakit dan balai pengobatan yang didirikan dan berapa besar ia membiayai pengobatan bagi yang miskin, melainkan seberapa jauh penyakit dapat dicegah, seberapa besar kematian yang tidak seharusnya bisa dihindarkan, seberapa jauh kecacatan akibat penyakit dapat dikurangi, seberapa jauh rakyat didorong untuk berperilaku sehat, dan seberapa jauh pemerintah dapat mengantisipasi datangnya wabah baru.</p>
<p>Di sinilah kewajiban pemerintah daerah/Dinas Kesehatan untuk melakukan penyadaran dan menfasilitasi agar setiap anggota masyarakat dapat memenuhi bagian kewajibannya menjaga diri supaya tidak sakit.</p>
<p>Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah berbagai penyakit yang kerap muncul pada musim hujan adalah melalui kampanye pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Gagasan untuk melakukan kampanye komunikasi PHBS pernah dilontarkan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Gubernur Jabar meminta agar masyarakat membiasakan diri dengan PHBS. Menurut dia, PHBS harus terus dikampanyekan (&#8221;PR&#8221;, 3/3).</p>
<p>Masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang kebersihan lingkungan menjadi kendala tersendiri dalam upaya mencegah penyakit-penyakit musim hujan. Langkah intensif yang mungkin dapat dilakukan adalah melakukan kampanye komunikasi kesehatan agar bisa mengomunikasikan perilaku bersih dan sehat melalui penanaman PHBS sedini mungkin.</p>
<p>Menurut Venus (2004), teori perilaku terencana (theory of planned behaviour) dalam kampanye komunikasi persuasif dapat digunakan dalam kampanye komunikasi PHBS. Teori ini menjelaskan bahwa faktor utama yang menentukan terbentuknya suatu perilaku adalah tujuan perilaku itu sendiri. Suatu perilaku tidak terbentuk begitu saja tanpa adanya perencanaan atau kesadaran seseorang akan tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tersebut. Kesadaran akan tujuan tertentu akan membawa individu untuk membuat rencana membentuk satu perilaku dalam suatu situasi tertentu.</p>
<p>Pada dasarnya, tujuan suatu perilaku ditentukan sejumlah faktor. (1) Sikap terhadap perilaku. Ini menyangkut kepercayaan individu terhadap konsekuensi positif dan negatif dari suatu perilaku, serta pertimbangan-pertimbangan penting yang ada pada tiap-tiap konsekuensi tersebut. Perilaku akan terlaksana jika individu merasa konsekuensi positifnya lebih besar daripada konsekuensi negatif. (2) Norma subjektif yang berhubungan dengan perilaku. Ini menyangkut kepercayaan individu berkenaan dengan pemikiran orang-orang yang mempunyai arti penting bagi dirinya terhadap perilaku tersebut. (3) Persepsi terhadap pengawasan perilaku. Ini adalah persepsi individu mengenai kekuatan faktor eksternal yang akan sangat memengaruhi tingkat kemudahan atau kesulitan munculnya perilaku tersebut.</p>
<p>Berdasarkan teori perilaku terencana, kampanye komunikasi PHBS tersebut harus dapat membangun motivasi individu/masyarakat dalam melakukan berbagai tindakan yang dianjurkan di dalamnya. Pesan harus dapat menyadarkan individu/masyarakat bahwa segala hal baru yang harus dilakukannya tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan untuk menghindari bahaya/ancaman yang mungkin saja dapat mematikan, yaitu penyakit-penyakit musim hujan.</p>
<p>Oleh karena itu, pesan sebaiknya menonjolkan sebanyak mungkin keuntungan dan meminimalkan sisi negatifnya. Pesan juga akan lebih optimal jika dapat menggunakan opinion leader yang dipercaya individu sebagai pembawa pesan. Misalnya, individu akan lebih terpengaruh untuk berubah bila yang mengatakan pesan tersebut adalah dokter atau tenaga profesional di bidang kesehatan.</p>
<p>Ketiga faktor tersebut akan sangat membantu dalam merancang kampanye komunikasi PHBS. Teori ini pun dapat membantu mengubah sikap dan perilaku setiap anggota masyarakat untuk menjaga kesehatan diri. Pada akhirnya, diharapkan akan muncul kesadaran pada setiap warga negara bahwa berperilaku hidup bersih dan sehat adalah kewajiban. Mereka wajib ikut menjaga agar keluarga, tetangga, dan lingkungan hidup mereka agar tetap dalam keadaan sehat. (Uud Wahyudin, dosen Mankom Fikom Unpad dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Pascasarjana Unpad Bandung)***</p>
<p>Sumber:</p>
<p>http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=109410</p>
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eurekaindonesia.org/kampanye-phbs-dan-penyakit-musim-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rentan Sakit Kala Hujan</title>
		<link>http://www.eurekaindonesia.org/rentan-sakit-kala-hujan/</link>
		<comments>http://www.eurekaindonesia.org/rentan-sakit-kala-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 09:29:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Fitur]]></category>

		<category><![CDATA[demam berdarah]]></category>

		<category><![CDATA[diare]]></category>

		<category><![CDATA[leptospirosis]]></category>

		<category><![CDATA[sanitasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eurekaindonesia.org/?p=1697</guid>
		<description><![CDATA[Hambali tergolek di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Dia didiagnosis mengalami diare akut&#8211;akibat bakteri bersarang di ususnya. Setelah diinfus selama dua hari, kondisi pria 65 tahun ini mulai membaik. Pada hari ketiga, dokter sudah mengizinkannya pulang.
Sementara Aminah, 30 tahun, yang didiagnosis terkena demam berdarah, baru satu hari dirawat. Sebelum ada bintik-bintik merah, suhu tubuhnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hambali tergolek di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Dia didiagnosis mengalami diare akut&#8211;akibat bakteri bersarang di ususnya. Setelah diinfus selama dua hari, kondisi pria 65 tahun ini mulai membaik. Pada hari ketiga, dokter sudah mengizinkannya pulang.<span id="more-1697"></span></p>
<p>Sementara Aminah, 30 tahun, yang didiagnosis terkena demam berdarah, baru satu hari dirawat. Sebelum ada bintik-bintik merah, suhu tubuhnya amat tinggi.</p>
<p>Trombositnya juga rendah, yakni kurang dari 20 ribu per milimeter kubik. Trombosit normal dalam darah adalah 150-450 ribu per milimeter kubik. Aminah sekarang masih dalam perawatan dokter.</p>
<p>Dua pasien itu adalah pengidap penyakit yang umum muncul pada musim hujan. Meski belum menjadi kejadian luar biasa, Internis-Konsultan Gastroentero Hepatologi (saluran pencernaan dan hati), dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, mengidentifikasi bakal terjadi peningkatan kasus diare dan demam berdarah yang signifikan di beberapa rumah sakit di Ibu Kota. &#8220;Sekarang saja sudah ditemukan tiga kasus baru per minggunya,&#8221; tutur dia saat ditemui di Rumah Sakit Islam Jakarta, Jumat malam lalu.</p>
<p>Kondisi hujan yang hilang-timbul, dituding Ari, membuat lingkungan menjadi tidak higienis. Sanitasi menjadi buruk, sehingga meningkatkan kelahiran serangga, seperti nyamuk, kecoa, dan lalat. Sejumlah nyamuk serta lalat pembawa virus dan bakteri ini menginvasi dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya, lalat itu nemplok di makanan serta air bersih, sehingga menjadi tercemar.</p>
<p>Penyakit musim hujan ini, menurut Ari, mudah menjangkiti orang berdaya tahan tubuh rendah. Sebab, bagaimana pun, tubuh itu perlu penyesuaian dengan suhu lingkungan. Apalagi musim hujan plus banjir di Jakarta biasanya membuat tingkat kemacetan semakin tinggi, sehingga aktivitas mereka lebih banyak dihabiskan di jalan. Ini menjadi kelelahan tersendiri.</p>
<p>Belum lagi paparan polusi tinggi, yang tentunya memperburuk daya tahan tubuh. Di satu titik, terdapat lingkungan kotor, lalu ditambah jumlah kuman yang meningkat, namun daya tahan tubuh minus&#8211;akan bergaris lurus pada peningkatan kasus penyakit, seperti diare dan demam berdarah.</p>
<p>Dari komposisi pasiennya, tutur Ari, yang paling rentan terkena penyakit adalah anak-anak dan orang lanjut usia. Kandidat selanjutnya adalah orang yang mempunyai aktivitas tinggi di lapangan. &#8220;Kasus yang saya temukan umumnya karena kelelahan, misalnya dia sibuk bekerja dan cuma tidur 3-4 jam,&#8221; kata staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.</p>
<p>Sebenarnya, sebagai pencegahan, menurut Ari, masyarakat cukup memperhatikan tempat genangan air, serta memilih dan memilah makanan yang dikonsumsi. Kalau kebetulan menderita diare, sebagai tindakan awal bisa diatasi dengan meminum oralit. Nah, dosis oralit ini, kata Ari, disesuaikan dengan cairan yang keluar.</p>
<p>Obat antidiare yang beredar di pasar sebenarnya bisa digunakan. Namun, Ari menambahkan, obat itu sifatnya sesaat saja. Artinya, obat antidiare efektif digunakan 1-2 hari. Kalau keadaan tidak berubah, harus segera konsultasi ke dokter. &#8220;Obat antidiare memang bisa mengatasi salah makan, namun kalau sudah terinfeksi bakteri, biasanya perlu tambahan antibiotik,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Lebih jauh, ancaman saat air bah bukan hanya itu. Binatang pengerat seperti tikus, menurut Dr Upik Kusumawati Hadi, M.S., pakar entomologi kesehatan di Institut Pertanian Bogor, juga membawa bibit penyakit leptospirosis atau penyakit kencing tikus. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira biasa dibawa oleh tikus. &#8220;Penularannya bisa saat orang kontak dengan genangan yang tercemar air seni hewan pembawa leptospirosis,&#8221; kata Upik. []</p>
<p>Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2010/01/18/brk,20100118-219680,id.html</p>
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eurekaindonesia.org/rentan-sakit-kala-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Awas Ancaman 3 Penyakit di Musim Hujan!</title>
		<link>http://www.eurekaindonesia.org/awas-ancaman-3-penyakit-di-musim-hujan/</link>
		<comments>http://www.eurekaindonesia.org/awas-ancaman-3-penyakit-di-musim-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 09:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Fitur]]></category>

		<category><![CDATA[banjir]]></category>

		<category><![CDATA[demam berdarah]]></category>

		<category><![CDATA[diare]]></category>

		<category><![CDATA[leptospirosis]]></category>

		<category><![CDATA[musim hujan]]></category>

		<category><![CDATA[P2PL Depkes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eurekaindonesia.org/?p=1692</guid>
		<description><![CDATA[Tingginya curah hujan selama bulan Januari ini menimbulkan ancaman berbagai penyakit menular. Departemen Kesehatan (Depkes) kembali mengingatkan masyarakat untuk waspada dan melakukan antisipasi mencegah penyebaran penyakit.
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof dr Tjandra Yoga Aditama, mengimbau masyarakat untuk mewaspadai ancaman penyakit yang tumbuh subur di saat musim hujan yakni diare, demam berdarah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tingginya curah hujan selama bulan Januari ini menimbulkan ancaman berbagai penyakit menular. Departemen Kesehatan (Depkes) kembali mengingatkan masyarakat untuk waspada dan melakukan antisipasi mencegah penyebaran penyakit.<span id="more-1692"></span></p>
<p>Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof dr Tjandra Yoga Aditama, mengimbau masyarakat untuk mewaspadai ancaman penyakit yang tumbuh subur di saat musim hujan yakni diare, demam berdarah dan leptospirosis. Prevalensi penyakit itu, kata Tjandra, biasanya akan meningkat seiring dengan potensi banjir yang meningkat.</p>
<p>&#8220;Pada musim hujan dengan curah hujan yang tinggi maka potensi banjir meningkat. Pada saat banjir, maka sumber-sumber air minum khususnya sumber air minum dari sumur dangkal akan banyak ikut tercemar. Biasanya juga akan terjadi peningkatan tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti yaitu nyamuk penular penyakit demam berdarah,&#8221; ungkap Tjandra melalui email kepada KOMPAS.com, Kamis (21/1/2010).</p>
<p>Apabila banjir terjadi, leptospirosis patut diwaspadai karena genangan air akan membuat tikus-tikus yang tinggal di liang-liang tanah akan ikut keluar dan menyebarkan penyakit. &#8220;Tikus tersebut akan berkeliaran di sekitar manusia di mana kotoran dan air kencingnya akan bercampur dengan air banjir tersebut. Seseorang yang ada luka, kemudian bermain dan terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kotoran atau kencing tikus yang mengandung bakteri lepstopira,&#8221; paparnya.</p>
<p>Tjandra mengimbau masyarakat melakukan langkah antisipasi dengan menerapkan kebiasaan hidup lebih sehat seperti mencuci tangan dengan sabun setiap akan makan atau minum serta sehabis buang hajat, membiasakan merebus air minum hingga mendidih setiap hari, dan menjaga kebersihan lingkungan, hindari tumpukan sampah disekitar tempat tinggal.</p>
<p>Depkes, lanjut Tjandra, dalam menyambut musim hujan kali telah mengambil langkah antisipasi terhadap kemungkinan peningkatan beberapa penyakit menular.  Selain menyiapkan ketersediaan tenaga kesehatan, logistik dan peningkatan surveilans untuk pemetaan daerah rawan, Depkes juga menyiagakan Rapid Response Team di seluruh jajaran kesehatan seperti Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Puskesmas serta UPT.</p>
<p>Sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/21/15271086/Awas.Ancaman.3.Penyakit.di.Musim.Hujan</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--><br />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eurekaindonesia.org/awas-ancaman-3-penyakit-di-musim-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anggaran Penanggulangan AIDS Perlu Ditingkatkan</title>
		<link>http://www.eurekaindonesia.org/anggaran-penanggulangan-aids-perlu-ditingkatkan/</link>
		<comments>http://www.eurekaindonesia.org/anggaran-penanggulangan-aids-perlu-ditingkatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 22:23:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Utama]]></category>

		<category><![CDATA[ahmad heryawan]]></category>

		<category><![CDATA[AIDS]]></category>

		<category><![CDATA[HAS 2009]]></category>

		<category><![CDATA[HCPI]]></category>

		<category><![CDATA[HIV]]></category>

		<category><![CDATA[Jawa Barat KPAP Jawa Barat]]></category>

		<category><![CDATA[Lapas Banceuy]]></category>

		<category><![CDATA[LSM Bahtera]]></category>

		<category><![CDATA[narkoba suntik]]></category>

		<category><![CDATA[Rumah Cemara]]></category>

		<category><![CDATA[SRIP Dr. Hasan Sadikin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eurekaindonesia.org/?p=1676</guid>
		<description><![CDATA[Berita KPAP Jabar (01/12) Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan meningkatkan anggaran untuk mencegah dan menanggulangi HIV-AIDS di Jawa Barat. &#8220;Hal ini menjadi cermin keseriusan pemerintah dalam mengatasi HIV-AIDS di Jawa Barat yang belakangan semakin mengancam&#8221; demikian diungkapkan Ahmad Heryawan,  Gubernur  Jawa Barat dalam konferensi pers Hari AIDS Sedunia 2009 di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berita KPAP Jabar (01/12) Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan meningkatkan anggaran untuk mencegah dan menanggulangi HIV-AIDS di Jawa Barat. &#8220;Hal ini menjadi cermin keseriusan pemerintah dalam mengatasi HIV-AIDS di Jawa Barat yang belakangan semakin mengancam&#8221; demikian diungkapkan Ahmad Heryawan,  Gubernur  Jawa Barat dalam konferensi pers Hari AIDS Sedunia 2009 di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung (01/12).<span id="more-1676"></span></p>
<p>Untuk tahun 2010, jumlah anggarannya memang belum ketahuan, namun kami siap untuk meningkatkan anggarannya. Tahun ini sekitar Rp. 2,5 miliar. Untuk tahun depan jika perlu ditingkatkan hingga Rp.5,5 miliar pun tidak masalah, ucap Gubernur Ahmad Heryawan yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jabar.</p>
<p>Ahmad Heryawan juga mengatakan  tingginya kasus HIV-AIDS di Jabar menuntut keseriusan semua pihak. Upaya pencegahan dan penangulangan HIV-AIDS perlu  dilakukan secara besar-besaran, terutama dalam program pencegahan. Karena,  menurutnya, mencegah itu lebih murah dibandingkan dengan menanggulangi HIV-AIDS.</p>
<p>Seperti diketahui, hingga September 2009, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat secara kumulatif terdapat 4.929 kasus HIV-AIDS (1.930 HIV positif dan 2.999 AIDS).  Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 66 %<br />
kasus HIV-AIDS disebabkan penggunaan jarum suntik tidak steril di kalangan pengguna narkoba suntik. Sedangkan jika dilihat dari usia, kelompok usia 20-29 tahun merupakan kelompok yang paling banyak tercatat terinfeksi HIV,<br />
hingga mencapai 2.783 kasus. Berarti, hampir sekitar 56 % kasus HIV-AIDS di Jabar terjadi di kalangan usia produktif.<br />
Tingginya kasus kasus AIDS di kalangan usia produktif menimbulkan banyak kehawatiran diantaranya bertambahnya anak yatim piatu karena   orangtuanya sudah meninggal atau masih hidup namun sudah tidak berdaya<br />
karena AIDS. Menyinggung hal ini, Dr. Nirmala Kesumah, MHA, Sekretaris Tim Penanggulangan AIDS RSHS mengungkapkan KPA Provinsi Jabar memiliki program mitigasi untuk anak Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA).</p>
<p>Melalui program mitigasi ini, orang tua yang sudah tidak mampu diberikan semacam modal usaha. Ini berasal dari Dinas Sosial.  &#8220;Yang diberikan bantuan, biasanya yang ayahnya sudah meninggal&#8221; ucap Dr. Nirmala Kesumah<br />
menjelaskan.</p>
<p>Puncak peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) 2009 tingkat Jabar hari ini mengambil tema &#8220;Akses Universal dan Hak Asasi Manusia&#8221; . Sejumlah kegiatan berlangsung memperingati HAS 2009, diantaranya pemusnahan limbah jarum<br />
suntik secara simbolik, penyematan pita merah oleh Gubernur Jabar, serta beberapa pentas seni dari komunitas yang aktif menanggulangi HIV-AIDS di Jabar.</p>
<p>Dalam kesempatan ini, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan juga memberikan penghargaan kepada Bupati/ Walikota dari 5 kab/kota dan sejumlah lembaga yang aktif menanggulangi HIV-AIDS di Jawa Barat. Kelima Kota/ Kabupaten<br />
itu adalah Kabupaten Karawang, Kota Bandung, Kota Bogor, Kota Bekasi, Kota Banjar. Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada Aksi Stop AIDS/ Family Health International (ASA/FHI), HIV Cooperation Program for Indonesia (HCPI), LSM Rumah Cemara, LSM Bahtera, dan Lapas Banceuy. []</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--><br />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eurekaindonesia.org/anggaran-penanggulangan-aids-perlu-ditingkatkan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memperingati HAS 2009</title>
		<link>http://www.eurekaindonesia.org/memperingati-has-2009/</link>
		<comments>http://www.eurekaindonesia.org/memperingati-has-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 22:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Utama]]></category>

		<category><![CDATA[AIDS]]></category>

		<category><![CDATA[HAS 2009]]></category>

		<category><![CDATA[HIV]]></category>

		<category><![CDATA[KPA Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eurekaindonesia.org/?p=1671</guid>
		<description><![CDATA[Sambutan
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
Selaku Ketua KPA Nasional
Sebagaimana kita ketahui , 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Moment ini merupakan sebuah kesempatan istemewa untuk menunjukkan komitmen dan kepedulian kita kepada saudara-saudara kita yang beresiko tinggi untuk terinfeksi HIV maupun maupun mereka yang sudah terlanjur terinfeksi  HIV dan yang terdampak oleh HIV.  Tema Internasional peringatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sambutan<br />
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat<br />
Selaku Ketua KPA Nasional</p>
<p>Sebagaimana kita ketahui , 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Moment ini merupakan sebuah kesempatan istemewa untuk menunjukkan komitmen dan kepedulian kita kepada saudara-saudara kita yang beresiko tinggi untuk terinfeksi HIV maupun maupun mereka yang sudah terlanjur terinfeksi  HIV dan yang terdampak oleh HIV.  Tema Internasional peringatan HAS tahun 2009 adalah Akses Universal dan Hak Asasi Manusia,  dengan tema nasional yang kita pilih  adalah Kerjasama masyarakat dan pemerintah mampu mempercepat  pemenuhan Akses Informasi, Pencegahan, Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan untuk semua.<span id="more-1671"></span></p>
<p>Dalam rangka meningkatkan akses universal maka mutlak diperlukan kerjasama yang sinergis antara masyarakat dan pemerintah untuk menempatkan upaya penanggulanggan AIDS sebagai kegiatan penting di Indonesia. Kerjasama tersebut akan dapat mempercepat pencapaian akses informasi, pencegahan, dan pengobatan untuk mereka yang membutuhkan.</p>
<p>Selaku Ketua KPA Nasional, saya sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi tingginya atas perhatian dan kepeduliaan semua pihak di pusat maupun di daerah yang telah melakukan berbagai upaya untuk penanggulangan AIDS. Secara khusus saya sampaikan terima kasih kepada IAKMI yang bersedia untuk menjadi Ketua Panitia Nasional peringatan HAS 2009 ini. Ini adalah pertama kalinya civil society  menjadi Ketua Panitia Nasional. Hal ini menunjukkan bahwa peran masyarakat sangat berarti untuk menjadi mitra pemerintah dalam mengkampanyekan upaya-upaya penanggulangan AIDS.</p>
<p>Peringatan HAS 2009 akan dilakukan di tingkat Nasional, Propinsi sampai ke tingkat kabupaten/kota.</p>
<p>Untuk menselaraskan kegiatan dalam HAS 2009 ini, maka perlu disusun buku Pedoman Pelaksanaan Peringatan Hari AIDS Sedunia 2009.  Melalui buku pedoman ini, saya himbau agar setiap kegiatan yang dilaksanakan di semua kabupaten/kota, Provinsi dan nasional serta masyarakat Indonesia yang berada di Luar Negeri dapat terkoordinasi dengan baik, mempunyai gaung yang luas dan daya ungkit yang tinggi dalam rangka penanggulangan dan pencegahan HIV dan AIDS di Indonesia dan hindari kegiatan yang hanya bersifat hura-hura.</p>
<p>Semoga melalui Peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2009 ini kita dapat mengkampanyekan pentingnya kerja sama masyarakat dan pemerintah sehingga bisa  memberikan harapan kepada masyarakat  untuk bisa mengakses layanan kesehatan yang lebih baik.</p>
<p>Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya  kepada para Gubemur, Bupati/Wali Kota, Camat,  Lurah/Kepala Desa dan masyarakat serta berbagai pihak, baik unsur pemerintah, non pemerintah, mitra intemasional, dan dunia usaha, yang berkenan untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan Hari AIDS Sedunia Tahun 2009.</p>
<p>Jakarta, September 2009<br />
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat</p>
<p>Aburizal Bakrie</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--><br />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eurekaindonesia.org/memperingati-has-2009/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>298 Ribu Warga Indonesia Hidup dengan HIV-AIDS</title>
		<link>http://www.eurekaindonesia.org/298-ribu-warga-indonesia-hidup-dengan-hiv-aids/</link>
		<comments>http://www.eurekaindonesia.org/298-ribu-warga-indonesia-hidup-dengan-hiv-aids/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 22:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[2009]]></category>

		<category><![CDATA[AIDS]]></category>

		<category><![CDATA[HAS 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eurekaindonesia.org/?p=1665</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA (Pos Kota) – Sekitar 298 ribu orang  Indonesia mayoritas kaum muda hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA). Dari jumlah ini berarti ada  8 orang kena AIDS per 100.000 penduduk.
”Ini merupakan ancaman yang serius,” tandas Menko Kesra  Agung Laksono saat membuka Pekan Kondom Nasional (PKN) 2009 di Ruang Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Senin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA (Pos Kota) – Sekitar 298 ribu orang  Indonesia mayoritas kaum muda hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA). Dari jumlah ini berarti ada  8 orang kena AIDS per 100.000 penduduk.<span id="more-1665"></span></p>
<p>”Ini merupakan ancaman yang serius,” tandas Menko Kesra  Agung Laksono saat membuka Pekan Kondom Nasional (PKN) 2009 di Ruang Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (30/11) pagi. Kegiatan itu juga digelar bersamaan dengan Seminar Nasional AIDS dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia 2009.</p>
<p>Agung yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional itu menambahkan, saat ini di Indonesia hampir tidak ada provinsi yang dinyatakan bebas HIV dan AIDS.</p>
<p>Dia menyebutkan, lima provinsi dengan jumlah penderita AIDS tertinggi yakni Papua 17,9 kali angka nasional, Bali (5,3), DKI Jakarta (3,8), Kepulauan Riau (3,4), dan Kalimantan Barat (2,2). Bahkan, HIV dan AIDS diprediksi telah ditemukan di lebih dari separuh jumlah kabupaten dan kota di Indonesia.</p>
<p>Agung menjelaskan, jika dilihat dari cara penularannya, sebagian besar terjadi melalui perilaku heteroseksual, yakni 49,7%. Selain itu, melalui penggunaan narkoba suntik (40,7%), dan pria berhubungan seks dengan pria (3,4%).</p>
<p>Sedangkan dari segi usia, lanjut Agung, penderita terbanyak AIDS adalah kelompok usia 20-29 tahun yang mencapai 49,57% kasus. Setelah itu, diduduki oleh kelompok usia 30-39 tahun sebanyak 29,84% kasus, dan kelompok usia 40-49 tahun, 8,71% kasus.</p>
<p>”Semua elemen masyarakat harus melakukan tindakan nyata untuk mencegah HIV dan AIDS,” tegas mantan Ketua DPR RI periode 2004-2009 tersebut.<br />
Agung mengakui, kendala dalam penanggulangan HIV dan AIDS yakni belum memadainya cakupan dan efektivitas program untuk mencapai target universal. Kendala lain, sistem pelayanan kesehatan yang belum merata di seluruh daerah.</p>
<p>Menurut Menko Kesra, epidemi HIV telah berkembang sangat pesat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kasus ini telah mengakibatkan kematian 25 juta orang dan saat ini telah terdapat lebih dari 33 juta orang yang hidup dengan HIV.</p>
<p>Sementara itu, berdasarkan data Departemen Kesehatan, hingga September 2009, total kasus AIDS yang dilaporkan mencapai 18.442 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.654 pria, 4701 perempuan, dan 87 lainnya tidak diketahui.</p>
<p><strong>WANITA HIV AIDS MENINGKAT</p>
<p></strong>Pada kesempatan sama, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Nafsiah Mboi mengatakan, jumlah wanita Indonesia terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) meningkat tajam.</p>
<p>“Bukan karena mereka pelacur, tapi karena menikah dengan laki-laki yang kena HIV. Masyarakat harus tahu bahwa angka AIDS saat ini sudah sangat tinggi. Pendidikan agama, seks dan penggunaan kondom harus diprioritaskan,” tandas Nafsiah Mboi  dalam acara seminar ‘Kondom Cara Bertanggung Jawab, Murah dan Mudah Cegah IMS dan HIV.’</p>
<p>Berdasarkan data Depkes 2009, sebanyak 8,2 juta lelaki membeli seks dan 6,1 juta perempuam menikah dengan lelaki yang terinveksi HIV.</p>
<p>“Jadi bisa dibayangkan betapa besar kemungkinan virus HIV penyebab AIDS menyebar. Yang paling kasihan adalah perempuan-perempuan yang positif HIV, tapi notabene bukan pelacur atau PSK. Jadi epidemi ini harus dimengerti secara mendalam, jangan hanya memberikan stigma buruk untuk penderita HIV/AIDS,” jelas Mboi.</p>
<p>Mboi menjelaskan bahwa faktor pencegahan HIV dan AIDS yang utama adalah dengan pendidikan agama. “Itu sebabnya Menteri Agama juga jadi bagian dari anggota penanggulangan AIDS,” ujar Mboi.</p>
<p>Kedua adalah pendidikan dan pemberdayaan remaja untuk say no to drugs dan free sex. Ketiga adalah penjangkauan di tempat kerja dengan fokus lelaki dan yang terakhir adalah perlindungan perempuan dan remaja putri, serta penggunaan kondom.</p>
<p>“Saya sudah sering dicaci maki dan difitnah menyebarluaskan seks bebas karena menyosialisasikan kondom, tapi kita harus realistis, angka-angka tentang HIV/AIDS sudah semakin tak terbendung,” ujar Mboi.</p>
<p>“Kondom adalah cara efektif menghindari HIV AIDS,” serunya. “Jika kampanye kami mencapai target, maka pada 2010 ada 1,2 juta orang bisa diselamatkan dari AIDS,” cetusnya.  []</p>
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eurekaindonesia.org/298-ribu-warga-indonesia-hidup-dengan-hiv-aids/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Standar Kesehatan Indonesia Masih Rendah</title>
		<link>http://www.eurekaindonesia.org/standar-kesehatan-indonesia-masih-rendah/</link>
		<comments>http://www.eurekaindonesia.org/standar-kesehatan-indonesia-masih-rendah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 23:17:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[2009]]></category>

		<category><![CDATA[IPM]]></category>

		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>

		<category><![CDATA[KHN]]></category>

		<category><![CDATA[PHBS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eurekaindonesia.org/?p=1661</guid>
		<description><![CDATA[Standar kesehatan Indonesia masih di bawah standar kesehatan negara ASEAN lainnya. Rendahnya standar kesehatan itu terkait dengan perilaku dan kebiasaan umum masyarakat Indonesia. Untuk mencapai standar kesehatan yang lebih tinggi, pemerintah pusat dan daerah menggalakan kampanye perilaku hidup bersih dan sehat. Tema itu pula yang diangkat dalam Hari Kesehatan Nasional ke 45 tahun 2009 ini.
Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Standar kesehatan Indonesia masih di bawah standar kesehatan negara ASEAN lainnya. Rendahnya standar kesehatan itu terkait dengan perilaku dan kebiasaan umum masyarakat Indonesia. Untuk mencapai standar kesehatan yang lebih tinggi, pemerintah pusat dan daerah menggalakan kampanye perilaku hidup bersih dan sehat. Tema itu pula yang diangkat dalam Hari Kesehatan Nasional ke 45 tahun 2009 ini.<span id="more-1661"></span></p>
<p>Dalam peringatan HKN tingkat Provinsi Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta agar masyarakat membudayakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Karena menurutnya, dengan PHBS memperkecil resiko terkena penyakit. Kampanye PHBS itu di antaranya dengan menjalankan program perbaikan lingkungan, penyediaan sarana sanitasi dasar, menekan tingkat pencemaran dan menggencarkan sosialisasi PHBS.</p>
<p>“Sesuai dengan tema Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-45 hari ini, yakni Lingkungan Sehat Rakyat Sehat, maka program pembangunan kesehatan diarahkan pada peningkatan kualitas lingkungan dengan capaian sasaran meningkatnya derajat kesehatan masyarakat, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas bangsa yang terukur dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), ” kata Heryawan saat Peringatan HKN tingkat Propinsi Jawa Barat, Kamis (12/11) di halaman Biofarma, Bandung.</p>
<p>Menurut Heryawan, saat ini ukuran kualitas sebuah bangsa dilihat dari capaian IPM. Saat ini kondisi IPM secara nasional masih rendah dibanding dengan negara-negara lain sesama anggota ASEAN, khususnya Malaysia dan Singapura. Sementara itu, Jawa Barat dengan penduduknya yang mencapai 42,1 juta jiwa berupaya untuk mencapai IPM pada angka 80.</p>
<p>“Saat ini dengan kisaran IPM pada angka 71. Tentunya dengan dukungan semua pihak, diharapkan Jawa Barat pada tahun 2015 dapat mencapai IPM 80,” ujar Heryawan.</p>
<p>Di acara yang sama gubernur juga memberikan penghargaan kepada kabupaten dan kota yang berprestasi di bidang kesehatan. Untuk kategori kabupaten, juara terbaik I diraih Sumedang dengan nilai penghargaan berupa bantuan sebesar Rp 175 juta, terbaik II Sukabumi dengan nilai Rp 150 juta dan terbaik III Kuningan dengan nilai Rp 125 juta. Sementara untuk kategori kota, juara terbaik I direbut Banjar dengan nilai bantuan dana sebesar Rp 175 juta dan terbaik II diraih Cimahi dengan nilai Rp 125 juta. (A-132/A-147)***</p>
<p>Sumber: Pikiran Rakyat, 12 November 2009</p>
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eurekaindonesia.org/standar-kesehatan-indonesia-masih-rendah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Kesehatan Nasional ke-45 Tahun 2009</title>
		<link>http://www.eurekaindonesia.org/hari-kesehatan-nasional-ke-45-tahun-2009/</link>
		<comments>http://www.eurekaindonesia.org/hari-kesehatan-nasional-ke-45-tahun-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 22:03:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Utama]]></category>

		<category><![CDATA[2009]]></category>

		<category><![CDATA[KHN ke-45]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.eurekaindonesia.org/?p=1657</guid>
		<description><![CDATA[1. PENDAHULUAN
Hari Kesehatan Nasional (HKN) selalu diperingati pada tanggal 12 November setiap tahun sejak 1964. Diperingati karena bangsa Indonesia dengan kegigihannya dan semangat kebersamaan serta kerjasama pemerintah dan masyarakat berhasil menuntaskan program pemberantasan malaria di Indonesia. Peristiwa tersebut kini setiap tahunnya diperingati dan dirayakan di seluruh wilayah Republik Indonesia sebagai bentuk optimisme Bangsa Indonesia dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. PENDAHULUAN</p>
<p>Hari Kesehatan Nasional (HKN) selalu diperingati pada tanggal 12 November setiap tahun sejak 1964. Diperingati karena bangsa Indonesia dengan kegigihannya dan semangat kebersamaan serta kerjasama pemerintah dan masyarakat berhasil menuntaskan program pemberantasan malaria di Indonesia. Peristiwa tersebut kini setiap tahunnya diperingati dan dirayakan di seluruh wilayah Republik Indonesia sebagai bentuk optimisme Bangsa Indonesia dalam Pembangunan Kesehatan, dengan berbagai kegiatan dan bahkan selama beberapa hari.<span id="more-1657"></span></p>
<p>Pada peringatan HKN ke-45 tahun 2009 ini pemerintah segera memasuki era pembangunan lima tahunan 2010-2014. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kesehatan (RPJP-K) tahun 2005-2025 yang dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kesehatan (RPJM-K) telah memasuki akhir tahapan RPJM-K yang pertama tahun 2009.</p>
<p>Pada era 2004-2009 yang baru berlalu sejumlah capaian pembangunan kesehatan sudah tercatat dalam hasil Riskesdas tahun 2008 yakni peningkatan Usia Harapan Hidup menjadi 70,6 tahun, menurunnya angka kematian bayi (AKB) menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup, menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan menjadi 266 per 100.000 kelahiran hidup dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita menjadi 18,4%.</p>
<p>Memasuki Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kesehatan (RPJM-K) tahun 2010-2014, disamping memperpanjang Umur Harapan Hidup (UHH) dan menurunkan lagi AKB, AKI dan prevalensi gizi kurang adalah mencapai target MDG’s sebagai komitmen internasional serta pemantapan pemberdayaan masyarakat melalui<br />
penguatan/pengembangan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) seperti Desa Siaga dan pemantapan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) dengan prioritas bagi seluruh masyarakat miskin sebagai bentuk pemenuhan akan hak dasar kesehatan yang diamanatkan UUD RI Tahun 1945 (Amandemen Keempat).</p>
<p>Untuk mencapai hal di atas, pada saat ini ada 3 (tiga) persoalan besar bidang kesehatan yaitu aspek lingkungan yang ditandai dengan besarnya dampak perubahan iklim terhadap ekosistem kehidupan sehingga mengundang sejumlah penyakit yang semula sudah dapat diturunkan menjadi berkembang kembali (re-emerging deseases) seperti malaria, demam berdarah dengue, diare dan ISPA, disamping dampak bencana alam yang semakin sering terjadi.</p>
<p>Hal kedua adalah aspek perilaku ditandai dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat dan peran sertanya dalam pembangunan kesehatan, hal ini ditunjukkan dengan lambatnya kemajuan peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan rumah tangga, tatanan pendidikan, tatanan tempat kerja, tatanan tempat umum dan tatanan institusi kesehatan. Sedangkan aspek ketiga yaitu upaya kesehatan, utamanya pelayanan kesehatan dasar selain belum optimal memberikan pelayanan yang bermutu juga aksesnya sebagian besar belum terjangkau oleh masyarakat. Ketiga aspek diatas secara simultan akan mempengaruhi cakupan derajat kesehatan.</p>
<p>Masalah sanitasi dasar sebagai bagian dari lingkungan masih merupakan masalah yang cukup besar di Indonesia, seperti terbatasnya ketersediaan dan akses air bersih, rendahnya akses sanitasi, masih rendahnya capaian rumah sehat dan lingkungan sehat, tingginya polusi udara akibat kebakaran hutan dan kendaraan, diperberat dengan masih rendahnya proporsi Rumah Tangga dengan PHBS baik, maka Pemerintah bersama masyarakat perlu menggalakkan semangat untuk meningkatkan kualitas lingkungan diawali pada Peringatan Hari Kesehatan Nasional yang ke 45 Tahun 2009 ini. Kita percaya dengan semangat yang tinggi serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, kita telah berada pada arah yang tepat menuju Rakyat yang Sehat.</p>
<p>2. TEMA DAN LOGO</p>
<p>Tema HKN ke-45 tahun 2009 adalah “LINGKUNGAN SEHAT RAKYAT SEHAT”. Tema ini sejalan dengan semangat kita untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang didukung Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui upaya pemantapan Desa Siaga di seluruh Indonesia sebagaimana tercermin dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kesehatan (RPJP-K) tahun 2005-2025.</p>
<p>Makna logo:</p>
<ol>
<li>Gambaran beberapa individu dalam berbagai corak warna menunjukkan dimanapun manusia Indonesia hidup dalam lingkungan yang sehat penuh keceriaan, kebugaran dan vitalitas.</li>
<li>Bulatan biru melambangkan lingkungan kediaman/tempat kehidupan yang segar, bersih, bebas polusi dan sehat didukung dengan ketersediaan air bersih.</li>
<li>Gambar daun hijau menunjukkan keseimbangan eko-sistem lingkungan yang melambangkan pertumbuhan dan kepedulian akan sumber oksigen kehidupan untuk mencapai status kesehatan yang berkualitas.</li>
</ol>
<p>3. TUJUAN</p>
<p>Buku panduan ini dibuat sebagai acuan penyelenggaraan Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-45 tahun 2009 di tingkat Pusat maupun Daerah, yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat, atau secara bersamasama<br />
sebagai bentuk kemitraan dan kerjasama sehingga penyelenggaraan kegiatan memiliki benang merah keterkaitan terhadap upaya peningkatan kualitas lingkungan hidup dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat.</p>
<p>4. KEGIATAN</p>
<p>A. KEGIATAN DI PUSAT</p>
<ol>
<li>Upacara bendera di Jakarta pada tanggal 12 November 2009 dengan Inspektur Upacara Menteri Kesehatan Republik Indonesia.</li>
<li>Pemberian penghargaan Presiden RI dan Menteri Kesehatan RI atas pengabdian PNS di lingkungan Departemen Kesehatan RI.</li>
<li>Pemberian penghargaan bagi institusi/perorangan yang berjasa di bidang kesehatan tingkat nasional.</li>
<li>Pameran Foto Bersama di Koridor lantai dasar Gedung Depkes RI.</li>
<li>Aksi Simpati Kebersihan Lingkungan di lima wilayah DKI Jakarta ditandai dengan pelepasan mobil pelayanan kesehatan.</li>
<li>Penyerahan mobil unit Promosi Kesehatan ke seluruh Indonesia.</li>
<li>Pameran pembangunan kesehatan, yang menggambarkan hasil pembangunan kesehatan yang diselenggarakan kemitraan Pemerintah, Swasta dan Masyarakat, pada tanggal 4 - 6 Desember di JCC, Jakarta.</li>
<li>Pemeriksaan Kualitas Air bagi Masyarakat di 10 Regional.</li>
<li>Olah raga : Sepeda sehat, Tenis dan Futsal.</li>
<li>Wawancara media/siaran pers/advetorial/informasi kesehatan sesuai tema</li>
<li>Kegiatan khusus Menkes RI :</li>
</ol>
<ul>
<li>Kunjungan ke posyandu bersama Ibu Negara (tentative)</li>
<li>Kunjungan ke Puskesmas di Nusa Tenggara Timur</li>
</ul>
<p>B. KEGIATAN DI DAERAH</p>
<ol>
<li>Upacara bendera di ibukota Provinsi dan ibu kota Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia dengan Pembina Upacara yaitu Gubernur di tingkat Provinsi, Bupati di tingkat Kabupaten, dan Walikota di tingkat Kota dengan membacakan pidato Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Dalam rangkaian acara dapat diisi dengan antara lain/alternatif : Demo massal penanggulangan bencana, Aksi simpati pemberian leaflet/stiker kesehatan</li>
<li>Seminar kesehatan yang membahas tentang aspek lingkungan dan perilaku kesehatan berdasarkan permasalahan setempat sesuai hasil Riskesdas 2007.</li>
<li>Pameran kesehatan (jika memungkinkan)</li>
<li>Bakti sosial kesehatan(yang dapat diagendakan sepanjang tahun) dalam bentuk kemitraan Pemerintah dan Swasta (CSR), seperti: Penyediaan sarana/fasilitas Toilet bersih dan Tempat Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di sekolah, pasar dan terminal bus; Memperluas Kawasan Tanpa Rokok di berbagai tatanan; Pemasangan tanda-tanda/himbauan menjaga kebersihan, buang sampah, kawasan tanpa rokok, toilet bersih, Cegah DBD melalui 3M plus, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), dan lain-lain; Penyediaan air bersih bagi kelompok masyarakat rawan air bersih; Pembangunan MCK (Mandi Cuci Kakus) di daerah yang membutuhkan; Pembuatan tempat pembuangan sampah; Pemilahan sampah organik dan non-organik.</li>
<li>Penyelenggaraan kegiatan olah raga di lingkungan setempat.</li>
<li>Sosialisasi melalui media elektronik dan media cetak, seperti: Konferens i per s sesuai dengan tema HKN dihubungkan dengan himbauan mengatasi problem lingkungan sehat di Daerah masing-masing untuk menurunkan angka kesakitan/kematian akibat Demam Berdarah Dengue, Diare, Malaria, Tuberkulosis dan ISPA; Mengupayakan secara teratur adanya siaran interaktif Gubernur/Bupati/ Walikota melalui media lokal sepanjang tahun untuk mendorong semangat masyarakat sebagai pemilik kemampuan terbesar dalam pembangunan kesehatan agar termotivasi meningkatkan dukungannya termasuk berperilaku hidup bersih dan sehat.</li>
</ol>
<p>5. PENUTUP</p>
<p>Sangat diyakini bahwa status kesehatan/derajat kesehatan akan mengalami peningkatan yang bermakna manakala Pemerintah, Swasta dan Masyarakat bersungguh-sungguh untuk meningkatkan indikator dan kualitas lingkungan yang sehat serta memperkuat upaya pemantapan perilaku hidup bersih dan sehat disamping peningkatan kinerja sumberdaya dan sarana pelayanan kesehatan. Demikianlah panduan ini dibuat untuk menjadi acuan penyelenggaraan peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-45 tahun 2009 dan sekaligus sebagai acuan awal penilaian kinerja kesehatan Daerah tahun 2010.</p>
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.eurekaindonesia.org/hari-kesehatan-nasional-ke-45-tahun-2009/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
