Efek Probiotik terhadap Bayi Prematur
Feb 28th, 2009 | By admin2 | Category: Ibu dan AnakKolonisasi bakteri pada usus bayi prematur berbeda dengan bayi aterm dikarenakan perbedaan metode perawatan neonatal, seperti penggunaan antibiotik atau perawatan dalam inkubator, yang dapat menunda atau mengganggu proses kolonisasi. Kolonisasi bifidobacteria terjadi lebih lambat pada bayi prematur dan bayi prematur lebih rentan terhadap kolonisasi bakteri patogen. Bakteri patogen dapat mencapai organ dan jaringan sistemik, dalam suatu proses yang dikenal dengan nama translokasi bakteri. Flora endogen memiliki peran penting dalam proses translokasi bakteri. Sebagai contoh: penempelan bakteri patogen dapat dipengaruhi oleh interaksi antara ekologi mikrobial dengan lingkungan mikro usus. Lingkungan mikro usus terdiri dari protease dan enzim degradasi potensial lainnya dari lambung dan usus halus bagian atas, motilitas usus, dan produksi asam dan enzim dari enterosit, serta lapisan musin dan molekul pertahanan seperti kriptin, lisozim, dan angiognenin yang dihasilkan oleh sel Paneth.
Mikroorganisme probiotik terutama terdiri dari strain Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Streptococcus. Lactobacilli merupakan strain bakteri yang berasal dari mikroflora manusia, biasanya merupakan bagian dari ekosistem usus, namun jumlahnya bervariasi pada manusia. Bifidobacteria juga merupakan bagian dari mikroflora usus, namun spesiesnya berbeda berdasarkan usia; bayi baru lahir sudah memiliki kolonisasi B. breve dan B. infantis, dan kolonisasi lebih banyak terjadi pada bayi yang mendapatkan ASI dibandingkan bayi yang mendapatkan susu formula. Namun, bifidobacteria yang dikonsumsi, ketika diberikan sebagai probiotik, tidak bertahan secara permanen di saluran cerna ketika konsumsinya dihentikan.
Bayi prematur mewakili situasi khusus penggunaan probiotik, dimana bayi prematur memiliki organ yang belum matang, seringnya mendapatkan perawatan intensif, mengalami penundaan pemberian makanan, dan seringnya mendapatkan antibiotik spektrum luas segera setelah lahir. Beberapa faktor ini dapat menimbulkan beberapa penyakit pada bayi prematur, seperti infeksi yang resisten terhadap antibiotik, systemic inflammatory response syndrome (SIRS), diare terkait penggunaan antibiotik, dan necrotizing enterocolitis (NEC). Probiotik dapat memberikan beberapa keuntungan pada bayi prematur dan membantu mencegah penyakit-penyakit tersebut melalui beberapa mekanisme, yaitu:
1. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi
Flora normal usus dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan menempati usus dalam jumlah besar dengan beraneka ragam jenis. Dengan begitu, flora normal usus dapat:
- Mencegah kolonisasi bakteri patogen melalui kompetisi nutrisi atau kompetisi tempat perlekatan pada epitel usus;
- Menghasilkan komponen antimikroba, volatile fatty acids, dan modifikasi asam empedu yang dapat menciptakan lingkungan mikro saluran cerna yang tidak kondusif untuk pertumbuhan bakteri patogen; dan
- Menginduksi pengerahan sel-sel imun dan mengaktivasi respon imun dan inflamasi yang tepat. Penyakit intestinal terjadi ketika beberapa faktor yang menguasai lingkungan mikro dan respon imunologik mengganggu integritas pertahanan epitel yang diciptakan oleh flora normal.
2. Perbaikan nutrisi enteral
Probiotik dapat memperbaiki nutrisi enteral dengan membantu pematangan intestinal, menghasilkan nutrien yang tidak dibuat oleh tubuh (misal, vitamin K), dan memperbaiki integritas mukosa, sehingga akan menurunkan pemberian makanan melalui IV, dimana hal ini merupakan faktor risiko mayor terhadap infeksi bakteri pada pasien yang dirawat di RS. Telah diperlihatkan efektivitas penggunaan probiotik untuk meningkatkan feeding toleran pada beberapa kelompok pasien, namun hanya terdapat sedikit studi mengenai pengaruh probiotik terhadap nutrisi pada bayi prematur.
3. Meningkatkan fungsi barier dan pencegahan terhadap SIRS
Kelahiran bayi prematur memiliki proporsi yang tinggi, terutama yang mempunyai berat badan lahir sangat rendah, yang mendapatkan perawatan intensif, dan yang menderita serangan infeksi sistemik dan SIRS oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan jamur. Infeksi-infeksi tersebut akan meningkatkan risiko penyakit paru kronis dan kerusakan otak. Usus merupakan organ imunitas tubuh terluas dan merupakan nidus potensial terbesar untuk memicu respon inflamasi yang dapat menyebarkan dan menimbulkan kerusakan pada organ-organ yang jauh. Usus juga terdiri dari barier permukaan terluas terhadap sel-sel submukosa dimana respon inflamasi berasal. Respon inflamasi terdiri dari peningkatan ekspresi sitokin proinflamasi dan antiinflamasi. Ketika respon proinflamasi tidak diimbangi dengan sitokin antiinflamasi, maka terjadilah SIRS yang tidak terkontrol, yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan di proksimal dan distal melalui induksi reaksi katabolik yang bertanggung jawab terhadap kehilangan jaringan otot lurik dan jaringan lemak. Usus tercatat sebagai organ mayor penghasil sitokin pada inflamasi sistemik. Apakah probiotik dapat memperbaiki SIRS pada bayi prematur masih hanya teoritis saja. []
Sumber:
http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=news&tipe=detail&detail=19942

koq bayi semua?
mohon penjelasan tentang bagaimana pemberian probitik terhadap anak autis dan pengaruhnya. . .