Butuh 600 Tahun Mengejar Ketinggalan!
Jun 3rd, 2009 | By admin2 | Category: BeritaRata-rata bobot bayi Indonesia berusia dua tahun lebih rendah 2 kg dari bobot bayi bangsa lain pada usia yang sama. Tinggi badannya juga lebih rendah 5cm. Fakta lain konsumsi susu anak-anak Indonesia ternyata juga lebih rendah dibandingkan anak-anak bangsa lain. Butuh 600 tahun untuk mengejar ketinggalan dari Amerika Serikat !
Bicara soal pertumbuhan, memang tak bisa lepas dari ihwal konsumsi kalsium. Mineral satu ini sangat berperan dalam pertumbuhan tulang, dan juga gigi. Sebagai gambaran, saat kanak-kanak, penyerapan kalsium dan makanan bisa mencapai 75%. Lalu menyusut hingga 20 – 40% begitu menginjak usia dewasa. Puncak pembentukan massa tulang terjadi pada usia 25 tahun.
Itu sebabnya, membiasakan minum susu sebagai sumber utama kalsium pada anak-anak menjadi penting, sebab mineral kalsium diperlukan untuk memperbaiki sosok anak.
Banyak orang menyimpulkan, ketertinggalan anak Indonesia dari bangsa lain dalam hal pertumbuhan itu boleh jadi berhubungan dengan kurang diminatinya susu di negeri ini. Survei perusahaan riset global Canadean (2004) menunjukkan, konsumsi susu sapi segar di Indonesia termasuk paling rendah di Asia.
Memang selama 30 tahun, dari 1970 – 2000, menurut catatan Prof. Ali Khomsan, guru besar ilmu pangan dan gizi IPB, tingkat konsumsi susu di Indonesia naik sebesar 4,68 l/kapita/tahun menjadi 6,5 l/kapita/tahun (2000).
Celakanya, angka itu belum apa-apa jika dibandingkan dengan di negara lain. Boro-boro mengejar ketertinggalan konsumsi susu dan Amerika Serikat yang 100 l/kapita/tahun. Untuk bisa menyalip Malaysia yang konsumsi susunya 20 l/kapita/tahun saja perlu waktu 120 tahun. Apalagi mau menyamai Amerika Serikat. Butuh waktu 600 tahun, bo!
Dalam soal asupan kalsium pun lagi-lagi kita kalah jauh. Rata-rata konsumsi kalsium di AS mencapai 743 mg/hari. Sementara kita cuma 23 mg/hari, dan 1/40-nya berasal dari susu. Bila digolongkan menurut umur, anak-anak memerlukan asupan kalsium 1.179 mg/hari dan dewasa 530 mg/hari.
Perlu juga diketahui, jaringan tulang tak pernah berhenti bergiat, secara teratur berubah bentuk, patah, dan tumbuh lagi. Sebuah kerja yang memerlukan asupan sumber kalsium tinggi seperti susu. Kalsium di dalam tubuh sebagian dikeluarkan secara teratur lewat air seni, keringat, dan tinja. Karena itu untuk menggantikannya, dalam sehari kita perlu asupan 800 – 1.200 mg kalsium.
Susu memang bukan satu-satunya sumber kalsium. Namun, Untuk mendapatkan jumlah kalsium yang setara dengan 250 ml susu cair segar, misalnya, kita harus menyantap 1.000 ml brokoli dan 12 potong roti gandum. Padahal satu gelas susu saja sudah mengandung 358 mg kalsium.
Kurang lancarnya gelontoran susu dipercaya sudah terjadi sejak anak masih bayi. Seperti dimaklumi, sumber pangan pertama yang tersedia bagi bayi baru lahir ialah air susu ibu (ASI). Namun, Survey Demografi Kesehatan Indonesia 1997 dan 2002 membuktikan, perilaku pemberian ASI di negeri ini tak menggembirakan. Pada 1997 jumlah ibu yang menyusui bayinya mencapai 96,3%. Angka itu turun menjadi 95,9% pada 2002.
Sementara jumlah ibu yang menyusui anaknya saat masa emas (satu jam pertama setelah kelahiran) hanya 3%. Pemberian ASI eksklusif (hanya ASI, tanpa tambahan susu formula dan bahan makanan lain) selama enam bulan pertama pascalahir pada 1997 hanya 42,4%, dan turun menjadi 39,5% pada 2002.
Jadi, sejak awal, bayi-bayi kita memang sudah bermasalah dengan konsumsi susu. []
Sumber: http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=213&Itemid=3
