Brewer’s Yeast pada Suplemen

Jun 25th, 2009 | By admin2 | Category: Kesehatan Islami

Jika kita penggemar suplemen makanan, barangkali tak ada salahnya meneliti daftar bahan baku pembuat suplemen makanan tersebut. Mungkin tercetak nama brewer’s yeast. Jika ya, kita memang harus mengekang diri untuk tidak mengonsumsi suplemen makanan yang mengandung bahan tersebut. Adakah ini berkaiatan dengan status kehalalan makanan tersebut? Brewer’s yeast merupakan bahan baku yang kerap terdapat pada produk suplemen makanan. Brewer’s yeast termasuk salah satu yeast atau khamir. Ia adalah makhluk bersel satu yang berkembang biak dengan cara membelah diri. Brewer’s yeast sendiri bersifat mikroskopik. Artinya hanya bisa dilihat dengan bantuan mikroskop. Ia adalah yeast atau khamir yang pada umumnya digunakan dalam industri pembuatan bir atau wine yang memiliki nama lengkap Saccharomyces cerevisiae Brewer’s yeast.

Istilah ini juga digunakan untuk khamir yang merupakan hasil samping dari proses pembuatan bir. Seperti dilansir dalam situs jurnal halal, khamir jenis ini telah mati atau tak memiliki kemampuan lagi untuk berkembang biak. Dengan demikian, khamir jenis ini tak berkemampuan laiknya khamir biasa yang dapat digunakan sebagai pengembang roti dan juga tak dapat dimanfaatkan sebagai ragi roti.

Karena merupakan hasil samping dari proses pembuatan bir, maka brewer’s yeast rasanya pahit, meski bisa dihilangkan. Caranya dengan mencampurkan khamir dalam bentuk bubuk dengan larutan natrium hidroksida dan natrium fosfat pada ph 10 dan suhu 45 hingga 50 derajat Celcius. Lalu bagaimana brewer’s yeast digunakan? Brewer’s yeast digunakan sebagai suplemen nutrisi untuk meningkatkan asupan vitamin B kompleks.

Selain itu, brewer’s yeast merupakan sumber mineral kromium yang cukup baik dan berarti untuk kepentingan pengobatan. Kromium bekerja dan berfungsi menurunkan tingkat insulin, karena itu sangat diperlukan bagi penderita diabetes. Sebenarnya kromium terdapat secara alami di alam. Namun, beberapa peneliti memperkirakan sekitar 90 persen orang Amerika kekurangan asupan kromium dalam dietnya.

Selain kromium, mineral lain yang dikandung misalnya selenium (Se), seng (zinc; Zn), phosphorus (P) dan magnesium (Mg). Brewer’s yeast juga digunakan untuk menghilangkan nafsu makan. Fungsi ini sering diaplikasikan untuk makanan diet atau menjadi bahan baku dari obat penurun berat badan. Tak hanya itu, brewer’s yeast juga dipakai sebagai suplemen untuk jerawat kronis dan furunculosis. Bahkan bahan ini digunakan sebagai bahan baku sebuah formula yang bermanfaat untuk memper lancar ASI.

Dalam industri pangan, brewer’s yeast digunakan sebagai flavor khususnya sebagai savoury ingredient atau rasa daging-dagingan. Banyak ditemukan khamir yang dijual di toko-toko makanan kesehatan yang tidak memiliki rasa pahit, itu artinya khamir tersebut bukan berasal dari brewer’s yeast. Khamir tersebut tidak memiliki faktor toleransi terhadap glukosa atau glucose tolerance factor (GTF) yang diperlukan untuk penderita diabetes dengan adanya mineral kromium.

Selain memiliki efek positif, disinyalir pula ada efek negatif dalam mengonsumsi brewer’s yeast yaitu rusaknya daya ingat, immunodeficiency, chronic fatigue serta alergi. Berbeda dengan brewer’s yeast, nutritional yeast (yeast yang khusus ditumbuhkan untuk dipanen sebagai penambah nutrisi) selain kandungan kromium sangat rendah juga bisa jadi tidak memiliki kemampuan GTF.

Selain itu produk tersebut sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melakukan aktivitas fermentasi atau sebagai pengembang dalam pembuatan roti. Proses produksi Brewer’s yeast dalam bentuk liquid dikumpulkan dari berbagai industri bir. Kemudian melalui jet separator dilakukan proses debittering (penghilangan rasa pahit) dengan menggunakan larutan natrium hidroksida dan natrium fosfat.

Proses selanjutnya adalah autolysis yang dilakukan pada pH dan suhu yang optimum, sehingga enzim yang dikandungnya akan memecah dinding sel khamir dan sejumlah campuran seperti asam amino, peptida dan karbohidrat akan dihasilkan. Isolasi adalah tahap berikut setelah terjadi autolysis. Isolasi dilakukan terhadap ekstrak dinding sel dengan separator. Kemudian pengkonsentrasian ekstrak dengan cara evaporasi dalam keadaan vakum pada suhu rendah.

Pada kondisi ini produk dalam bentuk cair yang memiliki kandungan bahan kering sekitar 50 persen. Produk tersebut masuk ke dalam tangki pencampur (pencampuran disesuaikan dengan permintaan pembeli). Setelah dari tangki pencampur, proses sterilisasi dilakukan. Selanjutnya produk bisa menuju ke pengering untuk menghasilkan produk yang berbentuk bubuk (kandungan bahan kering 96 persen) atau ke evaporator vakum kedua untuk mengalami proses pengkonsentrasian lebih lanjut, sehingga produk yang dihasilkan berada dalam bentuk pasta (kandungan bahan kering 65-80 persen).

Lalu bagaimana dengan status kehalalannya? Rapat khusus Komisi Fatwa MUI pertanggal 27-29 Maret 2003 telah memutuskan bahwa ragi yang berasal dari hasil samping proses pembuatan khamir setelah melalui proses pencucian sehingga hilang rasa, bau dan warnanya hukumnya halal dan suci Berdasarkan kondisi di atas maka apakah mungkin menghilangkan sama sekali bau dan rasa bir tersebut? Jika mungkin maka brewer’s yeast hukumnya halal dan suci. Namun sebaliknya, jika masih terdeteksi bau, rasa dan aroma bir, maka hukumnya haram dan tidak suci.[]

Sumber: HalalGuide.info

Tags: , , , , , ,

Leave Comment